Bersikap Ikhlas dalam Beramal (Bag 1)




Bersikap ikhlas dalam istilah agama merupakan bagian dari akhlaq mahmudah. Secara istilah ikhlas berarti melakukan sesuatu untuk memperoleh ridho Allah Swt dan terbebas dari keinginan untuk memperoleh pengakuan atau pujian dari manusia. Sementara dari segi bahasa, ikhas berarti murni, yaitu tidak tercampur dengan yang lain. Dengan kata lain, suatu amalan atau ibadah disebut ikhlas jika dilakukan semata-mata hanya karena Allah Swt, serta hanya mengharap ridho dan pahala-Nya. Seseorang yang mampu bersikap ikhlas disebut dengan mukhlis. Orang-orang mukhlis adalah mereka yang memiliki kepribadian tenang, mantap, tidak mudah marah, tetap sabar saat dicaci, serta tidak merasa bangga saat dipuji.

Ikhlas adalah sebuah sikap yang bersifat rahasia, dalam artian bukan sesuatu yang dapat diketahui atau dilihat oleh orang lain. Ikhlas adalah sikap yang hanya diketahui oleh hati nurani seseorang dan Allah Swt saja. Pada kitab Al Hikam yang ditulis oleh Ibnu Atho’illah Al Askandari menyebutkan bahwa wujud amal perbuatan baru hidup jika ada rahasia keikhlasannya. Dapat juga dikatakan bahwa ruh amal perbuatan menjadi hidup jika ada ikhlas di dalamnya. Berkaitan dengan sifatnya yang rahasia, sebuah riwayat mengatakan bahwa malaikat atau syaitan pun tidak dapat mengetahui apakah seseorang tersebut ikhlas atau tidak dalam melakukan sesuatu.




Apabila seseorang menyatakan saya ikhlas, hal tersebut tidak bisa menjadi indikator akan sikap ikhlas yang dimilikinya. Ucapan saya ikhlas belum tentu mencerminkan kadar keikhlasan seseorang. Bisa jadi orang yang menyatakan dirinya ikhlas justru sebaliknya, ia tidaklah ikhlas. Karena ikhlas terletak di hati, bukan terletak di lisan. Ikhlas bersifat rahasia, sehingga pada dasarnya tidak akan ada seorangpun yang tahu ikhlas atau tidaknya seseorang. Bahkan seringkali kita sendiri tidak tahu apakah perbuatan yang kita lakukan ikhlas atau tidak. Dalam hal ini hanya Allah Swt yang tahu dengan sebenar-benarnya.

Meskipun demikian, sebagai muslim kita dituntut untuk bisa bersikap ikhlas dalam beramal. Kita hendaknya ikhlas dan tulus saat melakukan suatu amalan, hanya semata-mata untuk beribadah dan mengharap ridho-Nya. Di sini tentunya kita perlu memahami bahwa tingkat keridhoan Allah Swt tergantung pada tingkat keikhlasan kita. Sehingga kita harus berupaya untuk senantiasa lebih ikhlas agar lebih dirihoi oleh Allah Swt. Dengan niat yang didasari pada sikap ikhlas, insya Allah pekerjaan atau amalan yang dilakukan akan membuahkan kemudahan, menjadi lebih baik, dan memperoleh ganjaran pahala dari Allah Swt.

Kebalikan dari bersikap ikhlas adalah isyrak, yaitu istilah untuk mengucapkan sesuatu yang berserikat atau bercampur dengan yang lain. Isyrak adalah suatu perbuatan yang tidak semata-mata karena ingin dipuji Allah Swt atau mengharap ridho-nya, melainkan karena ada alasan atau motif lain–seperti ingin dilihat dan dipuji oleh manusia.

bersambung…

sumber: buku saku Mimbar Jum’at oleh Ust. Iskandari Ahza, MM

Leave a Reply