Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an – Muqaddimah (Bag 2)




Hidup di bawah naungan Al-Qur’an, membuat alam semesta nampak jauh lebih besar dibandingkan apa yang biasanya, secara lahiriah, mampu terlihat. Lebih besar secara hakikat maupun dalam berbagai aspeknya. Semesta adalah alam ghaib dan alam nyata, bukan sekedar alam nyata. Semesta adalah dunia dan akhirat, bukan dunia semata.

Keberadaan manusia di muka bumi, sesungguhnya hanyalah merupakan kelanjutan dalam hamparan perjalanan yang begitu panjang. Kematian bukanlah akhir dari perjalanan. Alam kematian hanyalah salah satu tahapan dari perjalanan tersebut. Apa yang manusia peroleh di muka bumi ini, bukanlah keseluruhan perolehannya, tetapi hanya bagian kecil dari apa yang diperolehnya dalam perjalanan panjang itu. Balasan yang luput dari dirinya di bumi, tak akan luput di alam akhirat sana. Karena di alam akhirat, tak ada lagi kezaliman, tiada lagi yang dirugikan dan tak ada lagi yang disia-siakan.

[baca sebelumnya: Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an – Muqaddimah]




Namun demikian, perlu disadari bahwa tahapan yang dilalui manusia di muka bumi ini, bukanlah sekedar kehidupan biasa yang menyenangkan. Kehidupan di muka bumi sesungguhnya adalah alam tempat ruh menjalin persahabatan dan keakraban. Alam dimana ruh saling bertemu dan betegur sapa. Alam yang bergerak menuju kepada Pencipta yang Mahaesa, dimana ruh orang-orang yang beriman juga mengarah kepada-Nya.

… kepada Allah-lah sujud (patuh) apa yang ada di langit dan di bumi, suka atau tak suka, demikian pula bayang-bayang mereka, di waktu pagi dan petang. (QS Ar-Ra’d[13] : 15)

Bertasbihlah kepada-Nya, tujuh langit dan bumi dengan semua yang ada didalamnya. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya… (QS Al-Isra'[17] : 44)

Apakah ada kesenangan, kelapangan dan kepercayaan yang bisa dirasakan oleh hati secara melimpah melebihi apa yang dihadirkan oleh konsepsi yang sempurna, luas dan benar ini?

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an, membuat kita melihat manusia jauh lebih mulia dibandingkan dengan semua penghargaan yang pernah diberikan kepada manusia dari seluruh manusia di sepanjang sejarah. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang ditiupkan padanya ruh ciptaan Allah,

Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku, maka tunduklah kamu (wahai malaikat) kepadanya dengan bersujud. (QS Al-Hijr[15] : 29)

Dengan tiupan ruh tersebut, manusia menjadi khalifah di muka bumi.

Ingatlah ketika Rabb mu berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al Baqarah[2] : 30)

Dan segala sesuatu yang ada di bumi ditundukkan untuk manusia,

Dia persiapkan untuk kamu sekalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi seluruhnya… (QS Al Jatsiyah[45]: 13)

Leave a Reply