ZonaMasjid, kini menghadirkan seri tulisan yang diambil dari Kitab Tafsir karya Asy-Syahid Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir yang dihasilkan dari balik jeruji besi, buah dari sosok ulama yang istiqamah dan setia terhadap jalan dakwah yang dipenuhi oleh onak dan duri. Kitab tafsir, yang oleh penulisnya diberi judul Fi Zhilalil Qurán (Di Bawah Naungan Al-Qurán)

***

Hidup di bawah naungan Al-Qurán adalah sebuah nikmat. Nikmat yang hanya mampu dipahami oleh manusia yang merasakannya. Nikmat yang dapat mengangkat, memberkahi dan mensucikan kehidupan manusia.




Segala puji bagi Allah, yang telah memberiku karunia untuk hidup di bawah naungan Al-Qurán dalam suatu kurun waktu, sehingga aku dapat merasakan sebuah nikmat yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasakan nikmat dari kehidupan yang bermakna, diberkahi dan suci bersih.

Sesungguhnya ketika hidup di bawah naungan Al-Qurán, seakan-akan kita menjalani kehidupan dengan mendengarkan Allah Yang Mahasuci berbicara kepada kita melalui Al-Qurán ini, padahal kita hanyalah seorang hamba yang kecil. Apakah ada kemuliaan yang dapat menandingi kemuliaan seperti ini, kemulian diajak berbicara oleh Allah YangMahatinggi lagi Mahamulia? Adakah martabat hidup yang lebih baik dari apa yang dapat diberikan oleh Al-Qurán ini? Adakah kedudukan manusia yang lebih utama dibandingkan dengan kedudukan yang telah dianugerahkan oleh Penciptanya yang MahaMulia?

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an, membuat kita seakan berada di ketinggian saat melihat kejahiliyahan (segala sesuatu yang tak sesuai dengan ajaran islam) yang bertebaran dimuka bumi. Hingga nampaklah segala sesuatu yang menjadi pusat perhatian orang jahiliyah (orang yang jauh dari pemahaman Islam) sebagai sesuatu yang kecil tak berarti. Kekaguman orang-orang jahiliyah terhadap apa yang mereka miliki juga nampak seperti kekaguman anak kecil terhadap mainannya. Pemikiran, kepentingan dan perhatian mereka tak ubahnya seperti pemikiran, kepentingan dan perhatian anak-anak. Orang yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an melihat kekaguman orang jahiliyah terhadap sebuah pengetahuan (yang bertentangan dengan Islam), layaknya orang dewasa menyaksikan permaian dan senda gurau anak kecil.

Tidakkah kita merasa heran…, mengapa manusia sampai seperti itu? Mengapa mereka mau menistakan diri dalam kehidupan yang rendah dan tidak mau mendengarkan seruan yang tinggi lagi mulia, seruan kitab suci Al Qur’an? Seruan yang dapat mengangkat harkat dan menghadirkan keberkahan pada kehidupan mereka serta membawa mereka kepada jalan kehidupan yang suci.

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an menghantarkan kita untuk dapat mengamati dan menikmati konsep tentang wujud yang demikian sempurna, lengkap, tinggi dan jernih, tentang tujuan semua wujud dan tujuan keberadaan manusia. Aku bandingkan dengan konsepsi jahiliyah yang dijalani manusia di berbagai belahan dunia, baik timur, barat, utara maupun selatan. Aku bertanya, bagaimana manusia dapat hidup dalam kubangan busuk, di lapisan bawah yang nista, dalam kegelapan yang hitam pekat? Padahal di sisi mereka ada tempat yang bersih, ada tangga untuk menggapai ketinggian dan cahaya yang terang benderang.

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an, kita dapat merasakan harmonisasi yang teramat indah antara gerak kehidupan manusia yang dikehendaki Allah dan gerak alam semesta yang diciptakan-Nya. Kemudian aku melihat kehidupan jahiliyah dan menyaksikan kekacauan yang dialami manusia akibat penyimpangan dari berbagai sunnah kauniyah dan akibat perbenturan antara berbagai ajaran yang rusak lagi jahat yang telah lama menguasai manusia dengan fitrahnya sebagai manusia seperti yang telah ditetapkan Allah pada dirinya. Aku bergumam dalam hati, setan celaka manakah yang telah menyeret manusia ke lembah jahanam ini?

Sungguh ruginya manusia!!!

bersambung…

sumber: Kitab Tafsir Fi Zhilalil Qurán karya ustadz Sayyid Quthb