Menggantungkan Hidup Hanya di Tangan-Nya (Part 8)




Hari berganti hari, begitu pun dengan bulan yang terus mendekati waktu seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Oh ya, di bagian sebelumnya, aku mengatakan bahwa malam itu adalah makan malam terakhir ku bersama mama dan papa. Maksudku begini, setelah malam itu, aku masih makan malam dirumah sesekali, tapi tak lagi dengan personil lengkap. Karena papa lebih sering keluar kota, mengurus bisnis dan perusahaannya entah bagaimana kabarnya. Karena waktu ujian yang semakin dekat, aku lebih sering diluar rumah menghabiskan waktu di warnet, niatnya sih searching bahan-bahan ujian, tapi ternyata aku lebih banyak bermain game. Tapi kalau boleh jujur lagi, entah mengapa saat-saat itu aku merindukan papa.

Akhirnya dengan segala upaya dan usaha ku menghadapi SMPTN berbekal persiapan ku yang sebenarnya kurang siap. Namun, aku tetap berkeyakinan bisa melewati ujian ini dengan jawaban baik dari salah satu Universitas Negeri yang ku inginkan. Ada dua Universitas yang kuambil saat itu, fikiran ku jika satu kampus itu tak menerima ku, setidaknya masih ada satu kampus lagi, dan jauh-jauh kubuang pikiran penolakan dari kedua kampus yang ada di dua kota berbeda ini.

Ternyata Dia masih menunjukkan kasih sayangnya yang diluar dugaan dan diluar rencana ku sebelumnya. Cukup lama menunggu hasil SMPTN, akhirnya yang di tunggu keluar dengan jawaban yang sangat baik, aku diterima di kedua Universitas itu. Mereka menerima ku. Masih ada tempat yang bisa menerima orang seperti ku. Namun, aku harus memilih satu dari dua jawaban ini. Akhirnya dengan segala pertimbangan, terutama pertimbangan biaya kuliah, dan biaya hidup pastinya, aku memutuskan mengambil Universitas Negeri yang ada di Medan dengan harapan aku bisa menjalani kuliah ini dengan baik.




Modal nekat dan restu mama papa, akhirnya aku terbang ke medan. Maaf, aku ralat, bukan terbang dengan pesawat melainkan dengan bus antar lintas Sumatera. Memijakkan kaki pertama kali di kota yang sama sekali tidak pernah kutahu apa dan bagaimana kondisinya, membuat ku sedikit bingung. Namun, sekali lagi aku ingin membuktikan bukan hanya pada papa, tetapi pada diriku sendiri bahwa aku pasti mampu menjalani kehidupan baru dan meninggalkan segala keburukan hidup yang pernah kulakukan dulu.

Masa-masa kuliah pun dimulai. Dengan sedikit modal dari papa, aku dapat menyewa kamar kecil tak jauh dari kampus, dikamar kecil itu selalu kugantungkan semua harapan ku tentang kuliah dan apa yang akan kulakukan setelah sekolah itu berakhir. Ada banyak hayalan waktu itu selama menjalani kuliah strata 1 itu, ingin jadi guru matematika di sekolah bertaraf internasional lah, buat sekolah sendiri lah, dan melanjutkan s2 di luar negeri lah. Ah, banyak lagi hayalan yang sepertinya lebih cocok dibilang harapan, yang kugantungkan dan kuharapkan Dia mendengarnya.

Sampai akhirnya semua harapan itu, harus berantakan bahkan terancam hilang karena masalah yang satu persatu mulai menghampiri aku yang ribuan mil jauhnya dari rumah, dari mama, papa, dan tentu sangat jauh dari makam wanita kecintaan ku, mbah.

bersambung …

Oleh : Chairunnisa Dhiee

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 3)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 4)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 5)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 6)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 7)

 

Leave a Reply