Hari Senin 12 Rabiul Awal tahun ke-8 Hijriah–bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi–pagi hari, Rasulullah Saw memutuskan untuk pergi ke masjid setelah mendengar adzan berkumandang. Pagi itu demam beliau menurun, meskipun sebenarnya kondisinya masih begitu lemah.  Beliau pun sampai di masjid ketika shalat jamaah telah dimulai. Melihat kehadirannya, para jamaah hampir saja bubar karena begitu gembiranya. Beliau berdiri dan menatap mereka dengan wajah berseri. Setelah itu, Nabi berjalan ke depan dengan dibantu oleh Fadhl dan Tsawban. Di kemudian hari Anas berkata, “Aku belum pernah melihat wajah Rasulullah setampan saat itu.”

[Baca Sebelumnya: Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW (Bag 1)]




[Baca Sebelumnya: Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW (Bag 2)]

Abu Bakar yang berada di posisi imam juga menyadari kedatangan Rasulullah. Ia yakin bahwa seseorang yang tengah mendekatinya adalah Sang Nabi, karena itu ia pun mundur ke belakang tanpa menoleh sebelumnya. Namun, Nabi justru mendorong pundak Abu Bakar, bermaksud memintanya untuk meneruskan shalat. “Imamilah jamaahmu,” pinta Nabi. Beliau sendiri kemudian shalat di sisi kanan sahabatnya tersebut dengan posisi duduk.

Oran-orang bergembira melihat kondisi Rasulullah yang membaik. Usamah yang sengaja datang dari Jurf pun sangat gembira melihat Rasulullah yang tampak sembuh dari sakitnya. Sebelumnya ia sempat mengira kondisi Nabi memburuk sehingga ia pun datang menjumpainya. “Bergeraklah dengan rahmat Allah,” ujar Nabi kepada Usamah. Pemuda itu pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ke Jurf. Sesampainya di lokasi barak, ia memerintah pasukannya untuk bersiap-siap melakukan perjalanan ke utara. Pada saat yang sama Abu Bakar tengah melakukan perjalanan ke dataran atas Madinah untuk berkunjung ke Sunh.

Sementara itu, dengan dipapah oleh Fadhl dan Tsawban Rasulullah kembali ke rumah Aisyah. Ali dan Abbas sempat mengikuti beliau, meskipun tidak lama setelah itu pergi. Beberapa orang yang berpapasan dengan Ali pun bertanya tentang kondisi Rasulullah. “Alhamdulillah, beliau baik-baik saja,” jawab Ali kepada mereka. Namun, saat orang-orang tersebut pergi, Abbas meraih tangan Ali dan berkata bahwa ia melihat tanda kematian di wajah Rasulullah sebagaimana yang ia lihat pada wajah orang-orang sukunya.

Di rumah Aisyah, Rasulullah Saw tengah berada di tempat tidurnya sambil berbaring di pangkuan Aisyah. Segenap kekuatannya tampak melemah dan memburuk. Ketika itu saudaranya, Abdurrahman, masuk ke dalam kamar sambil membawa siwak. Aisyah tahu bahwa Nabi menginginkan benda tersebut, sehingga ia pun memintanya dari Abdurrahman untuk diberikannya kepada Nabi. Meksipun kondisinya tengah melemah, dengan siwak tersebut beliau menyikat giginya dengan cekatan.

Tidak lama setelah itu, kesadaran Rasulullah menghilang, sehingga membuat Aisyah mengira Nabi hampir menjemput ajal. Namun ternyata satu jam kemudian, beliau membuka matanya. Aisyah pun teringat tentang ucapan beliau suatu hari. “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya sebelum ia ditunjukkan tempatnya di surga dan diberikan pilihan: ingin hidup atau mati.” Di satu sisi Aisyah menyadari bahwa itulah yang sedang terjadi. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Kali ini beliau tidak akan memilih kita.” Aisyah kemudian mendengar Nabi bergumam, “Dengan keutamaan penduduk surga, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang paling baik.” (QS An Nisaa [4]: 69)

Aisyah lalu mendengar Rasulullah kembali bergumam, “Ya Allah, bersama teman yang paling baik.” Inilah kalimat terakhir yang beliau ucapkan, sesaat sebelum kemudian tampak kepalanya yang perlahan bertambah berat di pangkuan Aisyah. Istri-istri lainnya yang melihatnya pun tak kuasa menahan diri untuk menangis. Aisyah kemudian membaringkan kepala Rasulullah di atas bantal dan bergabung dengan istri-istri beliau. Mereka pu menangis bersama-sama. Kini Rasulullah Saw yang begitu dikasihi oleh umatnya benar-benar kembali ke haribaan Kekasih Sejatinya.

Allahu a’lam bishawwab.

 

sumber: buku Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, karya Martin Lings