Bersikap ikhlas akan berkaitan dengan niat kita dalam melakukan suatu perbuatan atau amalan. Dalam berbagai amal perbuatan, niat sungguh memegang peranan penting. Ikhlas dan niat bersumber dari hati atau kalbu. Niat yang tulus dan ikhlas adalah amalan-amalan taqwa dan merupakan wujud dari akhlakul karimah. Sebagaimana dari segi pengertiannya, ikhlas mengandung makna kemurnian dan bersih dari pengaruh sikap riya. Bersikap ikhlas dalam beramal merupakan upaya kita dalam memurnikan ketaatan kita kepada Allah Swt.

[baca sebelumnya: Bersikap Ikhlas dalam Beramal (Bag 1)]




Pentingnya niat sebelum melakukan sebuah amal perbuatan disampaikan Rasulullah Saw dalam sebuah hadits. Hadits ini lahir ketika ada seorang sahabat yang hijrah karena ingin bertemu dengan kekasihnya yang bernama Ummu Qais. Sahabat tersebut hanya ingin menikah di tempat Rasulullah hijrah. Karena hal tersebutlah sahabat tersebut hijrah bersama Rasulullah.

Alasan ini kemudian diketahui oleh Rasulullah, sehingga beliau bersabda, “Setiap perbuatan itu tergantung niatnya. Tiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya untuk apa yang ia hijrahi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits ini seringkali digunakan untuk menyampaikan dan menjelaskan betapa pentingnya menentukan niat pada setiap amal berbuatan yang hendak kita lakukan. Bahkan para ulama salaf mengatakan, “Seringkali amal yang kecil menjadi besar karena niatnya. Dan seringkali pula amal besar menjadi kecil karena niatnya.” Di sinilah pentingnya kita berupaya bersikap ikhlas dalam beramal. Bersikap ikhlas dalam niat terletak di lubuk hati. Dan hanya dengan niat yang ikhlas tersebut, amal perbuatan kita akan diterima oleh Allah Swt.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits qudsi, Allah Swt berfirman, “Hai manusia, ikhlaskan amal-amalmu karena Allah. Karena sesungguhnya Allah Swt tidak menerima amal kecuali yang dikerjakan dengan ikhlas karena-Nya.” (HR. Ibnu Majah Al-Bazar).

Meskipun niat yang ikhlas terletak dalam hati, hal ini hendaknya perlu diwujudkan dalam perbuatan amal shalih–yang merupakan manifestasi dari apa yang ada dalam lubuk hati kita. “Taqwa itu ada di sini (Nabi sambil menunjuk dadanya tiga kali).” (HR. Muslim)

Nilai ketaqwaan seseorang sesungguhnya ada di dalam hati, yaitu keikhlasan. Hadits ini terucap ketika dulu salah seorang sahabat Rasulullah, yaitu Usamah, dalam sebuah peperangan membunuh musuh yang sudah mengucapkan syahadat. Alasan Usamah tetap membunuhnya adalah ia mengira bahwa hal tersebut hanyalah upaya musuh untuk menyelamatkan diri. Rasulullah yang mengetahui hal itu pun marah dan berkata, “Aku diutus bukan untuk membelah dada orang. Taqwa itu ada di dada.”

Kita memang tidak bisa menebak apakah seseorang ikhlas atau tidak dalam berbuat. Kita tidak bisa melihatnya dari perbuatan yang ia lakukan. Karena seperti yang telah dibahas sebelumnya, ikhlas terletak di hati dan merupakan suatu misteri. Di sinilah pentingnya untuk berbaik sangka atu husnudzan kepada orang lain. Karena itulah Rasulullah pun marah melihat perbuatan Usamah dan menunjuk dadanya sebanyak tiga kali.

 

sumber: buku saku Mimbar Jum’at oleh Ust. Iskandari Ahza, MM