Di bawah naungan Al Qur’an ini aku memperoleh pelajaran bahwa tidak ada tempat di alam semesta ini bagi sesuatu yang kebetulan, atau terjadi secara tiba-tiba. “Sesungguhnya Kami ciptakan segala sesuatu dengan ukuran-ukuran pasti.” (Al Qamar [54]: 49); “… Dia menciptakan segala sesuatu lalu Dia menentukan kejadiannya dengan tepat.” (QS. Al Furqon [25]: 2)

Segala sesuatu terjadi tercipta untuk suatu hikmah. Namun hikmah gaib tersebut kadang-kadang tidak dapat terungkap oleh pandangan manusia yang terbatas. “… Bisa jadi kamu tidak menyukai sesuatu tetapi di dalamnya Allah menjadikan kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisaa [4]; 19); “… Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik untukmu dan bisa jadi pula kamu menyenangi sesuatu padahal ia buruk untukmu. Allah-lah yang tahu, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]: 216)

Berbagai sebab yang dikenal manusia kadang dapat memberikan hasil dan kada tidak memberikan hasil. Berbagai hipotesa yang dianggap pasti oleh manusia,terkadang hasilnya terbukti dan terkadang tidak terbukti. Hal ini karena sebab-sebab dan hipotesa-hipotesa tersebut bukanlah yang membuahkan hasil, namum mutlak kehendak Allah yang mendatangkan hasil-hasi tersebut, sebagaimana Allah mutlak berkehendak dalam menentukan sebab-sebab dan hipotesa-hipotesa tersebut. “…Kamu tidak tahu, mungkin saja Allah menjadikan di balik itu semua perkara yang lain.” (QS. Ath Thalaq [65]: 1); “… Dan kalian tidak dapat mewujudkan kehendak kecuali jika Allah memang menghendakinya…” (QS. Al Insan [76]: 30)




Seorang mukmin harus melngusahakan sebab-sebab ini karea ia diperintahkan untuk melakukannya, tetapi tetap Allah-lah yang menentukan hasilnya. Karena itu, merasa tenang terhadap rahmat, keadilan, kebijaksanaan, dan pengetahuan-Nya merupakan tempat berlindung satu-satunya yang aman dan selamat dari segala macam guncangan dan godaan. “Setan itu menjanjikan kefakiran dan memerintahkan kamu kepada perbuatan keji, sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dari-Nya dan keutamaan. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 268)

Karena itu, aku hidup di bawah naungan Al Qur’an dengan jiwa tenang, perasaaan damai, dan hati tenteram. Aku hidup dengan melihat tangan Allah dalam setiap peristiwa dan segala perkara. Aku hidup dalam lindungan Allah dan pemeliharaan-Nya. Aku hidup dengan merasakan betapa positif dan aktifnya sifat-sifat Allah. “Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadanya dan yang menghilangkan kesusahannya? …” (QS. An Naml [27]: 62); “Dialah yang Mahakuasa atas hamba-hambaNya dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu.” (QS. Al An’am [6]: 18); “… Allah berkuasa penuh atas segala urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf [12]: 21); “…Ketahuilah, sesungguhnya Allah menghalangi antara manusia dan hatinya…” (QS. Al Anfal [8]: 24)

“Dia Maha Berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al Buruj [85]: 16); “…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya. Dan Dia akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Dia akan mencukupkan kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah menjadikan segala sesuatu menurut ukurannya.” (QS. Ath Thalaq [65]: 2-3); “…Tidak ada suatu pun yang melata, kecuali Allah memegang ubun-ubunnya…” (QS. Hud [11]: 56); “Bukankah Allah cukup sebagai pelindung bagi hamba-Nya, walaupun mereka menakut-nakutimu dengan yang selain-Nya…” (QS. Az Xumar [39]: 36); “…Siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada siapa pun yang dapat memuliakannya…” (QS. Al Hajj [22]: 18); “…Siapa yang disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.” (Ar Ra’d [22]: 33)

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)