Mengenal sejarah Islam di negara minoritas memang selalu memberikan rasa ingin tahu yang lebih besar. Salah satunya, mencari tahu sejarah Islam di negara Singa Putih, Singapura. Adalah Masjid Sultan Singapura, salah satu bukti sejarah bentuk penyebaran agama Islam di Singapura.

Masjid Sultan terletak di Kampung Glam, Singapura. Masjid ini menjadi masjid pertama yang dibangun di republik itu dan memiliki cerita sejarah pembangunan yang cukup panjang.

Struktur awal dari Masjid Sultan dibangun pertama kali sekitar tahun 1826 oleh masyarakat Jawa yang banyak berdagang di Singapura. Masyarakat Jawa yang kebanyakan pedagang awal di Singapura menjalankan aktivitas dagang mereka dengan masyarakat Arab, Boyan, dan Bugis sebelum kedatangan saudagar Tionghoa. Saat itu, bangunan masjid Sultan bukan hanya dijadikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat tinggal dan kawasan pemukiman awal beberapa etnik masyarakat Indonesia. Sebelum akhirnya pada tahun 1920, Masjid Sultan kembali dibangun sehingga menjadi seperti sekarang.




Masjid Sultan dibangun tak jauh dari Istana Sultan Hussain (penguasa Singapura saat itu), dimana bangunan masjid yang pertama masih berbentuk masjid tradisional nusantara dengan lima atap limas bersusun tiga. Masjid Sultan kala itu dibangun dengan dana yang berasal dari sumbangan East India Company sebesar $3000 dan juga dari donasi jamaah muslim setempat.

ruang shalat

ruang shalat Masjid Sultan Singapura (sumber Wikipedia)

Pengelolaan Masjid Sultan kala itu dikepalai oleh Alauddin Shah, cucu Sultan Hussain. Alauddin Shah mengelola Masjid Sultan hingga tahun 1879.  Ketika Alaudin Shah Wafat kepengurusan masjid pun di lanjutkan oleh lima pimpinan komunitas muslim disana. Dan, pada tahun 1914 hak guna lahan masjid diperpanjang lagi oleh pemerintah Inggris di Singapura untuk masa 999 tahun dimulai dari tahun 1914.

Saat itu juga, dibentuklah pengurus masjid yang baru atau disebut trustees. Dimana pengurus Masjid Sultan ini diisi oleh dua perwakilan dari masing masing faksi komunitas muslim di Singapura yang terdiri dari Melayu, Jawa, Bugis, Arab, Tamil dan India Utara untuk merepresentasikan keberagaman komunitas muslim di Singapura.

Pada tahun 1900, Singapura telah menjadi pusat perdagangan Islam. Tentu saja hal ini membuat Masjid Sultan kemudian tak mampu lagi menampung jemaah yang terus berkembang pesat. Kemudian pada tahun 1924, memperingati seratus tahun berdirinya masjid tersebut. Maka pengurus masjid atau trustees menyetujui sebuah rencana untuk mendirikan kembali masjid baru yang lebih besar menggantikan bangunan masjid Sultan lama di lokasi yang sama.

Akhirnya masjid baru dari masjid Sultan pun mulai dirancang dengan bantuan arsitek Denis Santry dari Swan and Maclaren. Denis Santry merancang bangunan masjid baru ini yang tetap akan dibangun di atas lahan masjid lama dan lahan tambahan dari keluarga kerajaan.  Seluruh pembiayaan masjid baru ini di tanggung oleh keluarga Sultan dengan tambahan kontribusi dari komunitas muslim Singapura kala itu. Termasuk juga sumbangan botol kaca hijau dari masyarakat kurang mampu saat itu.

masjid

jalan menuju Masjid Sultan Singapura (sumber Colourbox)

Botol botol berwarna hijau itu yang kemudian di jadikan ornamen bawah kubah masjid Sultan. Mengadopsi gaya Sarasenik atau gaya Gotik Mughal, arsitek Denis Santry melengkapi rancangannya dengan menara masjid baru menggantikan masjid lama yang berarsitektur Indonesia.

Pembangunan masjid baru tersebut akhirnya selesai dikerjakan tahun 1928.Pada tahun 1960 dilakukan kembali perbaikan, yakni memperbaiki ruang utama masjid, dan pada tahun 1993 masjid Sultan Singapura sudah dilengkapi dengan ruang Auditorium dan juga aula serbaguna.

Sampai saat ini Masjid Sultan Singapura masih berdiri kokoh di tempat dimana pertama kali didirikan, dan menjadi salah satu masjid tertua dan terbesar di Singapura dengan daya tampung mencapai 5000 jamaah. Masjid Sultan Singpura kemudian mendapatkan pengakuan dari pemerintah Republik Singapura pada tanggal 14 Maret 1975 sebagai national monument. Dan statusnya pun kini dimiliki dan dikelola oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS).

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber Wikipedia)