Mengapa memiliki banyak uang tidak selalu menjamin kebahagiaan? Mengapa memiliki rumah yang besar dan megah tidak selalu membuahkan kebahagiaan dan kemuliaan? Mengapa memiliki istri yang jelita atau suami yang tanpa tidak selalu menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga? Mengapa memiliki ilmu yang luas tidak selalu mengangkat derajat pemiliknya dan justru malah menghinakannya?

Padahal selama ini mungkin kita telah berupaya mencari dan meraihnya melalui perjuangan dan bersusah payah. Namun ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita pun justru memperoleh yang sebaliknya, bukan kebahagiaan atau ketenteraman, namun masalah dan malapetaka. Apakah yang menyebabkan ini terjadi? Mungkin jawabannya begitu sederhana, semua yang kita miliki tidak berkah.




Ayat Al Qur’an berikut ini mungkin salah satu pengingat kita akan hal ini. “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf [7]: 96)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa berdoa untuk para sahabatnya. Jika sahabat tersebut menikah, beliau berdoa semoga rumah tangganya berkah. Kepada sahabat yang kaya, beliau berdoa semoga kekayaannya berkah. Kepada sahabat yang memiliki ilmu, beliau berdoa semoga ilmu yang dimilikinya berkah. Ya, beliau mendoakan agar segala sesuatu yang ada pada para sahabatnya memperoleh berkah.

Berkah adalah yang perlu kita raih, karena ia bermanfaat bagi kehidupan di dunia dan di akhirat. Kita tidak boleh hanya senang dengan memiliki sesuatu. Namun, yang harus lebih membuat senang adalah keberkahan atas sesuatu yang kita miliki tersebut. Seringkali kita menemukan –atau bahkan kita merasakannya sendiri– dengan segala yang dimiliki, kehidupan seseorang menjadi sengsara karena tercemari oleh hal-hal yang kurang berkah.

Misalnya, kita mungkin pernah melihat rumah tangga saudara, teman, atau tetangga kita yang selalu dipenuhi dengan percekcokan. Kita perlu bertanya-tanya –sebagai bahan pelajaran– jangan-jangan prosedur, keilmuan, atau etika berumah tangga yang mereka lalui tidak cocok dengan yang disyariatkan oleh Allah Swt. Uang mereka yang banyak malah membuat pusing dan ilmu luas yang dimilikinya malah menghinakan mereka. Ini pasti prosedur dalam mencari dan mengamalkannya bercampur dengan perkara-perkara yang tidak disukai Allah Swt. Lalu, apa artinya jika kita memiliki sesuatu tetapi justru menghinakan dan menyengsarakan?

Jika kita merasakan dan mengalaminya sendiri, kita perlu segera membenahi diri dan menengok diri kita ke belakang. Apakah kita pernah berlaku tidak jujur? Padahal jangan sekali-kali mencoba untuk tidak jujur dalam bertindak. Mengapa? Karena jujur atau tidak jujur tetap kehendak Allah-lah yang berlaku. Jika itu adalah rezeki, jujur atau tidak jujur dalam mencarinya, rejeki itu tetaplah datang dari Allah Swt.

bersambung…

sumber: buku saku Mimbar Jumat, Menggapai Berkah oleh KH. Abdullah Gymnastiar