Masih di semester itu, banyak teman-temanku, baik teman kampus atau diluar kampus yang keluar masuk menginap di kamar kostku, yang kecil dan berantakan itu. Aku gak mungkin lupa hari itu, hari Senin di minggu awal semester 4 ditahun 2005, setelah setengah hari menghabiskan waktu di kampus untuk kuliah setelah entah berapa hari tidak masuk. Aku putuskan untuk pulang ke kost-an dan tak ikut nongkrong dengan anak-anak lainnya di warung langganan samping kampus. Rasanya aku ingin sekali pulang waktu itu. Saat itu memang ada satu orang temanku yang sudah semalam nginap di kamar kost, bukan teman kampus, kita gak sengaja kenal di tempat nongkrong. Rasa percayaku yang begitu cepat dengan orang lain, membuat ku tak keberatan dengan teman ku satu itu yang memang sering sekali menginap di kost-an ku. Tak ada curiga ku sedikit pun saat itu.

Sampai pada aku pulang ke kost waktu itu, kulihat teman yang tak ingin kusebutkan namanya disini dan tak ada niat kubuatkan inisialnya juga, sedang asyik menggunakan sabu tepat diatas kasurku. Tidak hanya barang haram itu, dia juga dengan tenangnya menegak minuman yang kita persiapkan untuk malam nanti. Saat itu aku tak sekonyong-konyong langsung marah, walaupun temanku itu telah melanggar persyaratan menginap di kamarku. Tak boleh ada obat-obatan kalau ingin menginap. Dari dulu aku sangat menghindari barang-barang itu. Sangat menghindari, karena aku khawatir bakal kecanduan seperti kecanduanku dengan rokok dan minuman.

Udah pulang kau ray, sinilah dulu duduk sini,” ajak teman ku itu. Dia sudah mulai tak sadar.




Bang, kok make’ dikamarku, perjanjian kita kan gak ada kek gini-gini,” jawabku sambil merapikan bungkusan-bungkusan obat itu.

Halah, gak usah pura-pura kau, tahunya aku kau mau juga beginian. Ini kau cobalah punyaku ini.” disodorkannya serbuk-serbuk halus itu ke wajahku. Aku tahu tak boleh bersikap anarkis dengan seseorang yang sedang fly begini, aku pun menolaknya sebisa mungkin agar tak memancing emosinya.

Aku gak make’ bang. Abang kuantar pulang aja atau gimana bang? Gak enak aku sama yang punya kost, make’ beginian dikamar.” jawabku. Cukup lama suasana kamar sunyi, tak ada jawaban dari temanku. Dia membalikkan badan dan merebahkan badannya diatas kasur. Tidur mungkin, pikirku. Aku pun coba berbaring di tengah kamar yang tak berbentuk itu, dan tiba-tiba saja orang yang kupikir tidur itu menodongkan pisau ke perutku.

Aku salah pilih teman, pikirku. Salahku terlalu cepat percaya pada orang baru yang begitu cepat kuanggap teman. Tubuh ku tak berkutik melihat mata pisau yang mendarat tepat di atas perut ku yang tipis. Tubuh ku yang kurus dan ringkih menjadi terasa sangat kaku karena benda tajam putih itu. Bahkan aku bisa melihat pantulan tubuhku di mata pisau itu. Aku takut. Aku belum siap mati, apalagi dengan cara dibunuh oleh orang yang sedang teler ini.

Kau mau ngusir aku?!” bentak temanku itu. Aku diam. Mencoba mengumpulkan tenaga.

Masih mau ngusir aku, atau pisau ini masuk di perut mu?” katanya lagi.

Enggak bang. Sorry, abang boleh di sini, suka hati bang.” jawab ku tenang. Aku berusaha tenang, walaupun degupan jantungku tak beraturan.

Pergi kau dari kamar ini. Aku gak mau lihat lagi muka mu di sini. Jangan sampai pisau ini benaran masuk ke salah satu bagian badanmu.” ancam nya. Dia mengusir ku dari kamar ku sendiri.

Suasana tegang ini membuat ku benar-benar memutar otak, bertahan di kamar bersama orang teler ini atau pergi dari kamar milik sendiri yang sudah ku bayar sampai akhir semester. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari kamar ku, ku tinggal kan dia. Biarlah dia dikamar sampai ia sadar nanti, pikirku. Dengan pakaian sisa kuliah tadi, sendal jepit, dan perut yang keroncongan ku langkahkan kaki entah kemana belum ada tujuan. Niatku akan kembali lagi esok ke kamar, kuharap sudah tak ada lagi dia. Saat itu aku kembali merindu mbah, dan teringat mama papa.

Lalu apa kabar mama dan papa di Pulau Jawa sana? Adakah teringat dan merindukan berat anak lelaki mereka yang beratus kilometer jauhnya dari pandangan mereka. Aku tidak tahu pasti bagaimana kabar mereka, jarang sekali kita berhubungan, sekedar saling menanyakan kabar. Aku selalu menghubungi papa atau mama, kalau uang kiriman sudah menipis, dan kalau ada keperluan lainnya yang berhubungan dengan uang. Selebihnya tidak ada, berjalan saja tanpa obrolan berarti layaknya orang tua yang mengkhawatirkan anaknya di perantauan.

bersambung …

Oleh : Chairunnisa Dhiee

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 3)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 4)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 5)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 6)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 7)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 8)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 9)