Tentunya kita ingin setiap rezeki yang kita terima, penuh dengan keberkahan. Karena itu, kita harus berjuang sekuat tenaga agar jangan terlintas di dalam hati sedikit pun keinginan untuk berbuat tidak jujur atau licik. Atau kita akan menghilangkan keberkahannya, jika melakukan hal tersebut. Berbuat jujur adalah langkah utama yang perlu kita tempuh untuk menggapai berkah Ilahi dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Namun tidak hanya sampai di sini, karena jangan sampai pula ada hak-hak orang lain yang terampas atau tidak tertunaikan, apalagi hak ummat. Na’udzubillahi min dzalik.

[baca sebelumnya: Menggapai Berkah Ilahi (Bag 1)]

Pernah suatu hari Umar bin Abdul Aziz radhiallahu ‘anhu, ketika beliau sedang melakukan tugas malam hari di rumahnya, tiba-tiba seorang anaknya datang mengetuk pintu kamar. Umar kemudian membuka pintu dan mematikan lampu yang ada di dalam kamar tersebut. Sang anak pun bertanya, “Kenapa engkau mematikan lampu tersebut, Ayah?” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Karena minyak yang ada di dalam lampu ini adalah milik negara. Tidak layak jika kita membicarakan urusan keluarga dengan menggunakan fasilitas negara.”




Begitulah sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz, beliau sangat berhati-hati terhadap apa yang dimiliki dan diamanahkan kepadanya. Karena ia adalah seseorang yang sungguh ingin memperoleh ridho dan berkah dari Allah Swt dalam kehidupan yang dijalaninya.

Ada sebuah hadits shahih yang menceritakan tentang tiga orang pada masa kenabian Rasulullah Saw terjebak di dalam gua. Dulu ada tiga orang yang tengah bepergian hingga terpaksa bermalam di sebuah gua. Ketika mereka sedang berada di dalam gua tersebut, sebuah batu besar dari atas bukit jatuh menutupi mulut gua. Karena itu, mereka pun terjebak dan tidak bisa keluar. Mereka lalu berunding dan menetapkan bahwa tidak ada yang dapat menolong mereka keluar, kecuali dengan tawasul kepada Allah dengan amal shalih yang pernah mereka lakukan.

Salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Allah, saya memiliki ibu dan ayah. Dahulu, setiap hari keduanya saya beri minuman susu dari ternak saya. Suatu hari saya mendatangi keduanya dalam keadaan sudah tertidur, maka saya menunggu keduanya hingga terbit fajar. Padahal ketika itu anak saya meminta susu tersebut hingga menangis. Tapi saya tetap tidak memberikannya. Setelah keduanya terbangun, mereka pun meminumnya.” Setelah itu, orang tersebut bertanya, “Ya Allah, jika perbuatan saya benar-benar karena mengharap ridho-Mu, maka kami minta berkahnya agar batu penutup mulut ini terbuka.” Atas kehendak Allah, batu tersebut pun bergeser sedikit.

Orang kedua berkata, “Ya Allah, dahulu saya mencintai putri pamanku dan selalu berusaha merayu dan menodainya, tetapi ia selalu menolak. Suatu ketika gadis tersebut kelaparan dan meminta bantuan kepadaku. Dengan senang hati saya membantunya dengan memberikan uang 120 dinar dengan perjanjian dia akan menyerahkan dirinya di malam hari. Ketika saya akan menodainya, ia berkata, ‘Takutlah kepada Allah, kecuali dengan cara yang halal.’ Akhirnya saya pun meninggalkannya. Ya Allah, jika saya melakukannya karena mengharap ridho-mu, maka kami minta berkahnya agar batu penutup gua ini terbuka.” Atas kehendak Allah, bergeserlah batu tersebut sedikit lagi, tapi mereka tetap masih belum bisa keluar.

Orang ketiga berkata, “Ya Allah, dulu aku pernah menggaji beberapa karyawan. Sala satu di antara mereka tergesa pergi dan tidak sempat menerima gajinya. Aku pun mengembangkan gajinya tersebut untuk modal usaha. Dari situ aku bisa membeli tanah dan ternak. Saat karyawan tersebut kembali, aku pun memberikan gajinya lengkap, serta untung yang diperoleh dari usaha tersebut. Ya Allah, aku melakukan itu hanya karena Engkau, jika Engkau ridho, bukakanlah pintu mulut gua ini. Allah Swt pun mengabulkan doa ketiganya, sehingga mulut gua mendadak terbuka lebar dan mereka bisa keluar.

Cerita yang dikisahkan Rasulullah tersebut memberikan hikmah yang dapat kita teladani. Sesungguhnya tida ada waktu yang lebih bermanfaat dan berkah kecuali jika digunakan untuk mengutamakan dan berbakti pada orang tua. Kita sudah selayaknya meyakini bahwa kekayaan yang kita miliki tidak akan membawa berkah, kecuali jika harta tersebut bersih karena telah tertunaikan kewajiban-kewajibannya, baik hak orang lain maupun hak ummat.

 

sumber: buku saku Mimbar Jumat, Menggapai Berkah oleh KH. Abdullah Gymnastiar