Andai Fatimah Mencuri




“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dan memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90)

Dalam Islam, Rasulullah saw telah meneladankan penegakan supremasi hukum. Beliau tidak pernah pandang bulu dalam menegakkan hukum Allah Ta’ala dimuka bumi. Siapa yang salah akan mendapat sanksi, sekalipun si tersangka adalah kolega, saudara, bahkan keturunan beliau sendiri.

Suatu hari orang-orang Quraisy dibuat kelabakan oleh ulah seorang perempuan dari Bani Mahzum yang kedapatan mencuri pada masa penaklukan kota Mekkah. Namun, karena perempuan itu berasal dari keluarga bangsawan, beberapa sahabat bermaksud meminta keringanan hukuman. Dipilihlah sahabat yang dianggap dekat dengan Rasulullah saw, yaitu Usamah bin Zaid untuk bernegosiasi. Dengan harapan hukuman perempuan tersebut dapat diperingan.




Si pencuri itu pun dibawa menghadap Rasulullah saw. Kemudian Usamah bin Zaid membicarakan masalah pencurian yang dilakukan perempuan tersebut kepada beliau.  Mendengar penjelasan Usamah bin Zaid, seketika wajah Rasulullah saw berubah merah, seakan tidak senang. Beliau bertanya,”Apakah kamu ingin bersikap kasihan dalam hukum Allah?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Usamah bin Zaid merasa tidak enak dan memohon maaf pada baginda Rasul. “Maafkanlah saya, ya Rasulullah.”

Sore harinya Rasulullah saw berdiri dan berpidato dihadapan kaum muslimin. Setelah memanjatkan puji kepada Allah swt, beliau berkata, “Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kalian adalah manakala ada orang yang mulia dan terhormat di antara mereka mencuri, mereka membiarkannya. Sebaliknya, saat ada orang yang lemah dan hina diantara mereka mencuri, dengan segera mereka melaksanakan hukuman atasnya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah putri  Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.”

Akhirnya Rasulullah saw memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan hukuman sesuai syariat kepada perempuan yang mencuri itu. Setelah peristira itu, perempuan tersebut bertobat kepada Allah swt.

Kisah diatas layak kita jadikan teladan masyarakat yang mendambakan keadilan dan penegakan hukum bagi semua lapisan. Keadilan yang ditunjukkan Rasulullah saw adalah sikap lurus dan tegas, tidak memihak kepada siapa pun kecuali kebenaran. Siapa yang salah, kaya atau miskin, memiliki jabatan atau tidak, wajib dihukum tanpa pandang bulu.

Salah satu penyebab kehancuran suatu negara adalah lemahnya penegakan supremasi hukum dalam masyarakat. Hukum diselimuti kabut ketidakjujuran karena bisa dipesan seperti makanan. Jangan heran jika ada ungkapan “yang kuat akan menguasai hukum, sedangkan yang lemah akan dihukum”. Hukum hanya berlaku untuk kalangan kelas bawah tetapi mandul jika melibatkan golongan elite. Maling ayam bisa dapat hukuman bertahun-tahun, sementara koruptor hanya diberi hukuman ringan, bahkan pura-pura menutup mata atas kesalahan yang diperbuat.

Penegakan hukum harus berjalan seperti roda kendaraan yang menggelinding di mana pun ia berada. Di jalan yang menanjak atau curam, semuanya berfungsi sama. Bukan seperti pisau yang hanya tajam dibawah namun tumpul di bagian atas. Jika suatu negara sudah terbiasa menjalankan hukum seperti pisau ini, kehancuran tatanan masyarakatnya hanya tinggal menunggu waktu.

Allah menegaskan dalam Al-Quran, “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang sudah diturunkan Allah, dan jangan kau turuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah terhadap mereka. Jangan sampai mereka memperdayakanmu dari beberapa peraturan yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu. Kalau mereka menyimpang, ketahuilah, Tuhan akan menurunkan bencana kepada mereka karena dosa mereka sendiri juga. Sesungguhnya, kebanyakan manusia adalah orang-orang fasik. Adakah yang mereka kehendaki itu hukum Jahiliah? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi mereka yang yakin?” (QS.Al-Maidah:49-50)

oleh: Chairunnisa Dhiee

sumber: buku ‘Betapa Rasulullah Merindukanmu’

 

Leave a Reply