Setelah orang yang menyekutukan Allah Swt (berbuat syirik), orang yang membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan dan orang yang meninggalkan atau melalaikan shalat fardhu, calon penghuni neraka yang selanjutnya adalah orang munafik.

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Menyekutukan Allah (bag. 1)]

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Membunuh Tanpa Alasan yang Dibenarkan (bag. 2)]




[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Meninggalkan atau Melalaikan Shalat (bag. 3)]

D. Orang Munafik

Dari sekian bannyak sifat yang tidak disukai oleh Allah swt, salah satunya adalah sifat munafik. Yakni, orang yang menyembunyikan sesuatu di dalam hati. Artinya, apa yang ada di hati tidak sama dengan apa yang ia utarakan melalui mulutnya. Lebih gampangnya, munafik dapat disebut juga orang yang berpura-pura.

Tiga ciri (tanda) mengetahui orang munafik atau tidak, yakni apabila berbicara ia berbohong, jika berjanji selalu mengingkari, dan apabila di percaya berkhianat. Hal ini sesuai dengan sabda baginda Rasul yang mengatakan bahwa,

Tanda orang munafik ada tiga;jika berbicara ia dusta jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat.”(HR.Bukhari Muslim)

Dari sabda Rasulullah saw tersebut, jelas untuk kita mengetahui ciri atau tanda orang munafik, dan dari sabda tersebut juga menjadi pembelajaran untuk diri kita sendiri agar tidak menjadi seseorang yang munafik.

Pertama, jika berbicara, ia berdusta

Maksudnya orang tersebut selalu melontarkan perkataan kepada orang lain, salah satunya ialah memperingati orang agar tidak selalu berbuat maksiat, sedangkan ia sendiri melakukan perbuatan tersebut.

Kedua, orang yang tidak menepati janji

Mengenai ciri kedua ini, jelas bagi kita bahwa orang yang selalu berjanji kepada orang lain, tetapi ia tidak pernah menepatinya (ingkar), maka ia termasuk orang munafik. Maka, orang yang mempunyai sifat seperti ini akan dibenci oleh Allah Ta’ala. Sebab, apabila seseorang berjanji kepada orang lain, tetapi tidak menepati, maka sama halnya ia telah ingkar terhadap Allah swt, karena pada waktu seseorang berjanji, Allah swt menyaksikannya.

Sedikit tambahan, yang dimaksud berjanji tidak hanya mengucapkan janji kepada orang lain, berjanji bisa disebut juga dengan bersumpah. Sebab, bersumpah juga mengucapkan perkataan yang sifatnya perjanjian, yang juga disaksikan oleh Allah swt.

Allah swt berfirman mengenai  hal ini dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 91 :

Dan, tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpahmu itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu terhadap sumpah-sumpahmu itu. Sesungguhnya, Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. An-Nahl [16]:91)

Dari pemaparan ayat diatas, sudah jelas bahwa Allah swt tidak suka terhadap orang-orang yang berjanji dan ia tidak menepati. Oleh sebab itu maka berhati-hatilah dalam berjanji. Janganlah mudah mengobral janji. Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang-orang yang mudah berjanji dan mudah untuk tidak menepatinya. Semoga para pemimpin bangsa kita juga dihindarkan dari sifat munafik ini. Semoga tidak kita saksikan lagi pemimpin yang saat berkampanye berjanji untuk tidak melakukan penggusuran, namun setelah mendapatkan kursi kekuasaan ternyata penggusuran tetap dilakukannya dengan berbagai dalih pembenaran.

1 2 3