Menjauhkan Diri dari Pendosa (bag. 1)




Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisaa [4]: 111)

Pada zaman Jahiliyah orang-orang berbuat dosa, mengubur anak perempuannya hidup-hidup, membunuh, menyiksa dan memukuli sesamanya hingga mati, karena mereka tidak berpengetahuan. Dan kala itu, tidak ada yang namanya hak asasi manusia.

Tetapi di zaman modern, yang katanya telah memasuki era globalisasi, di mana ilmu pengetahuan manusia sudah cukup luas, namun ternyata kehidupan manusia tetap juga tidak lepas dari berbuat dosa seperti membunuh atau menyiksa orang lain, bahkan hal tersebut dilakukan dengan cara yang lebih modern sesuai dengan capaian kemajuan zaman. Memang ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, namun bujuk rayu dan pengaruh syaitan membuat manusia tetap melakukan perbuatan dosa. Lalu, langkah apakah yang harus kita ambil dalam menjauhkan diri dari orang-orang yang melakukan perbuatan dosa tersebut?




Sesungguhnya berbuat dosa merupakan kerugian bagi diri sendiri. Sebagaimana pada ayat 111 surat An Nisaa di atas. Bagi para pendosa (orang yang senang berbuat dosa), kelak tidak ada yang bisa menolongnya di hari akhir, atas perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Bahkan Allah Ta’ala melalui ayat-ayat-Nya telah menunjukkan kepada manusia kerugian-kerugian apa yang akan diperolehnya akibat dari setiap perbuatan dosa yang dilakukannya di dunia. Tak ada satu dosa pun yang dapat disembunyikan ataupun luput dari pandangan Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui. Bahkan jika dosa itu disembunyikan hingga ke lubang semut pun, Allah Subhanahu wa ta’ala akan mengetahuinya.

Seperti pahala yang akan memberikan dampak positif pada hidup kita di dunia dan akhirat, maka dosa akan memberikan dampak negatif di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa taála sungguh Maha Adil. Misalnya, dosa membunuh seorang mukmin, balasannya adalah neraka. Al Qur’an juga menyebutkan bahwa orang-orang yang memakan harta anak yatim sama halnya dengan orang yang memakan bara api dan bara api tersebut masuk ke dalam perutnya. Orang-orang yang suka ghibah (menggunjing orang lain) disamakan orang yang memakan daging saudaranya sendiri.

Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Saw telah menyampaikan hukuman-hukuman yang akan diterima oleh orang-orang yang melakukan perbuatan dosa. Namun, masih saja banyak orang yang berani berbuat dosa: membunuh orang lain hanya karena hal sepele, memakan harta anak yatim dengan berlindung di balik pengelola panti, atau panitia sadaqah, zakat, dan infaq.

Hukuman untuk seorang pendosa sesungguhnya adalah akibat dari perbuatannya sendiri. Ibarat orang yang merokok, maka akibatnya adalah batuk. Meskipun sudah ada peraturan larangan merokok di Jakarta, yang telah diberlakukan oleh pemerintah, tetap saja masih banyak yang melanggar. Meskipun dalam hal ini orang bisa melihat akibatnya secara langsung di dunia, namun banyak orang yang tetap tidak merasa takut untuk merokok. Buktinya rokok masih menjadi barang dagangan yang laku keras dan perusahaannya meraup begitu banyak keuntungan. Lalu, bagaimana dengan dosa yang hukumannya nanti di akhirat, banyak orang tak mempercayai hal tersebut, bahkan tak sedikit pun terbersit rasa takut. Bahkan terkadang lisan para pendosa dengan ringannya berceloteh, “Itu urusan nantilah dan itu kan tak pasti”. 

Ya Allah, sudah begitu parahkan kehidupan manusia saat ini? Semakin banyak orang yang menjadi semakin jauh dari jalan Allah Yang Maha Suci, jumlah pendosa pun terus bertumbuh setiap harinya. Bahkan tak sedikit manusia yang melakukan dosa, tanpa sedikitpun mempertimbangkan tanggung jawabnya kelak di hari pembalasan. Berbuat dosa tak ubahnya sekedar seperti mengusir lalat yang hendak hinggap di wajah kita. Perbuatan dosa dilakukannya tanpa merasa beban di hati sedikitpun. Semoga Allah Taála melindungi kita agar tak termasuk golongan manusia yang seperti itu. Aamiin

bersambung…

sumber: Mimbar Jumat, Jauhkan Diri dari Pendosa oleh Buya H.M. Alfis Chaniago

Leave a Reply