Terkait dengan hadits yang telah disampaikan di artikel sebelumnya [baca: Perjumpaan Orang Mukmin dengan Allah Swt (Bag 1)], dalam Sunan Ibnu Majah, Al Mahsyi menyampaikan bahwa Allah Swt telah menghilangkan sifat tamak dalam diri mereka para penghuni surga dan memberikan kepada mereka sesuatu tambahan yang tidak pernah mereka harapkan. Mereka pun ridho dengan anugerah yang telah diberikan oleh Allah Swt kepada mereka. At-Tirmidzi.

Penjelasan An-Nawawi




Adapun tentang penjelasan hadits tersebut dan hadits-hadits semisalnya, An-Nawawi rahimahullah mengatakan: Ketahuilah bahwa dalam menyikapi hadits-hadits sifat para ulama membaginya menjadi dua pendapat. Pertama adalah pendapat sebagian besar ulama salaf bahwa tidak boleh membicarakan makna hadits tersebut. Bahkan mereka berkata, ”Wajib bagi kita untuk mengimaninya dan meyakininya sesuai dengan makna yang pantas dengan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala. Selain itu, kita juga harus berkeyakinan secara mantap bahwa tidak ada sesuatu yang menyerupai Allah Subhanahu wa ta’ala, dan Allah disucikan dari seluruh sifat-sifat yang ada pada makhluk.”  Pendapat tersebut adalah pendapat segolongan ulama ahli kalam atau teolog, dan dipilih oleh segolongan ulama tahqiq. Dan, ini adalah pendapat yang lebih selamat dalam urusan aqidah.

Adapun pendapat kedua —yaitu pendapat mayoritas ulama ahli kalam— bahwa hadits tersebut ditakwili dengan sesuatu yang pantas sesuai dengan konteksnya. Sedangkan yang boleh menakwili adalah orang yang mengetahui bahasa Arab, kaidah-kaidah ushul maupun furu’.

Selain hadits-hadits dari Rasulullah Saw, perjumpaan orang mukmin dengan Allah Subhanahu wa ta’ala juga disampaikan dalam ayat-ayat suci Al Qur’an. “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri (indah). Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (QS. Al Qiyaamah [75]: 22-23)

Muhammad Abduh Tuasikal dalam tulisannya menerangkan bahwa orang-orang beriman akan melihat wajah Allah Swt (berjumpa) dengan mata mereka di akhirat kelak. Kata melihat digandeng dengan kata depan ilaa, sehingga berarti penglihatan tersebut berasal dari wajah mereka. Atau dengan kata lain, mereka melihat wajah Allah Swt (berjumpa) dengan indera penglihatan mereka. Dalam ayat ini Allah Swt bahkan mengatakan bahwa wajah para orang mukmin tersebut indah dan berseri karena kenikmatan surga yang mereka terima, serta semakin indah karena mereka berjumpa dan melihat wajah Allah. Mereka melihat-Nya sesuai dengan tingkatan surga yang ditempati. Ada yang melihat setiap hari saat pagi dan petang. Ada yang melihat hanya satu kali dalam setiap pekan.

Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat dan salamnya ke hadirat Nabi Muhammad beserta para sahabat dan keluarga beliau. Dan, segala puji hanya bagi Allah Tuhan semesta alam. Allahua’lam bish shawwab.

 

oleh: An-Nisaa Gettar

sumber: Kumpulan Hadits Qudsi Pilihan oleh Syaikh Fathi Ghanim