Semua pertengkaran diawali dengan pembenaran. Ketika terjadi tawuran antar kampung dengan saling melempar batu, mengeroyok, dan sebagainya, keduabelah pihak menganggap yang dilakukannya adalah benar, karena kedua pihak merasa berdiri di atas landasan alasan yang benar. Satu pihak merasa benar, pihak lain pun demikian, sehingga mereka merasa berhak pula untuk membalas karena sama-sama merasa benar.

[baca sebelumnya: Semangat Memperbaiki Diri]

Akibatnya, terjadilah saling menyerang, dan saling membakar rumah. Ujung-ujungnya timbul korban, banyak yang terluka, cacat bahkan terbunuh. Lebih dari itu, hari-hari yang dilalui menjadi penuh ketegangan. Anak-anak tidak bisa lagi bersekolah, suami tidak bisa mencari nafkah, dan semacamnya. Lantas dengan begitu apa untungnya?




Hidup didunia hanya satu kali dan belum tentu kita panjang umur, haruskah hidup yang sekali-kalinya ini sengsara karena permusuhan di antara kita?

Kita harus berbuat banyak untuk mencapai kedamaian, kalau tidak damai tidak ada yang bisa kita nikmati. Semua serba tidak nyaman, bekerja tegang, sekolah tegang, di jalan tegang, guru was-was, orangtua pun merasa cemas saat melepas anaknya.

Mungkin sudah saatnya bila kita bertekad untuk mengakhiri segala macam pertengkaran. Boleh jadi, program terpenting kita sekarang adalah belajar untuk tidak bertengkar. Ibu-ibu belajar untuk tidak bertengkar dengan suami, berani mengalah untuk tidak bertengkar. Demikian sebaliknya, bapak berani mengalah kepada istri untuk tidak bertengkar. Mulailah dari diri sendiri!

Insya Allah kedamaian akan dinikmati. Menyelamatkan dan mengubah bangsa ini harus kita awali dari diri sendiri. Meski kita sangat ingin bangsa ini berubah, kita ingin umat berubah, kita ingin keluarga berubah, kita ingin anak berubah, tapi diri kita sendiri tidak pernah berubah, tidak akan bisa! Silahkan suami memberi nasehat kepada istri dengan memberi nasehat kepada istri dengan memberikan nasehat yang terbaik, tapi billa di sisi lain si suami sendiri tidak pernah berusaha memperbaiki diri, dijamin tidak akan efektif. Seorang ibu memberikan nasihat kepada anaknya sampai mulut berbusa-busa pun, tak akan efektif, jika ibu tersebut tidak lebih dulu memperbaiki diri.

Sekarang kita terlalu banyak memikirkan orang lain yang berubah sampai tidak ada waktu untuk mengubah diri. Para komandan, para pimpinan, ingin prajuritnya berubah, tidak akan terjadi sebelum para pemimpinnya mengubah diri.

Jika seorang komandan ingin pasukan berubah maka komandannyalah yang harus berubah. Bagaimana mungkin memerintahkan prajurit hidup bersahaja kalau pimpinannya tidak bersahaja. Jangan menyuruh orang lain, sebelum menyuruh diri sendiri, jangan melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri.

Sebab yang disuruh memiliki mata, telinga, dan pikiran. Setiap orang yang berbeda antara perkataan dan perbuatan akan jatuh wibawanya. Sebaliknya, walaupun kita tidak berkata tetapi kalau kita gigih memperbaiki diri itu sudah berdampak sudah banyak.

Wallahu’alam bish shawab

 

oleh : Chairunnisa Dhiee

sumber: buku saku mimbar Jumat oleh KH. Abdullah Gymnastiar