Sepanjang menjalani kehidupan di bawah naungan Al Qur’an, akhirnya aku sampai pada keyakinan yang pasti dan tegas bahwa tidak ada kebaikan bagi bumi ini; tidak ada kedamaian bagi umat manusia; tidak ada ketenangan bagi manusia ini; tidak ada martabat, keberkahan, dan kesucian; tidak ada keharmonisan bersama sunnah-sunnah kauniyah dan fitrah kehidupan… kecuali dengan kembali kepada Allah.

Kembali kepada Allah, sebagaimana terlihat jelas di bawah naungan Al Qur’an, hanya memiliki satu gambaran dan jalan, hanya satu-satunya dan tidak ada duanya… yaitu mengembalikan seluruh kehidupan kepada manhaj Allah yang telah digariskan-Nya bagi umat manusia di dalam Kitab-Nya yang mulia. Yaitu menjadikan Kitab Allah sebagai satu-satunya sumber hukum dalam kehidupan dan hanya berhakim kepadanya dalam setiap urusan. Jika tidak, pastilah akan terjadi kerusakan di atas bumi, kenestapaan umat manusia, keterpurukan dalam lumpur kehinaan dan kejahiliahan yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.




“Jika mereka tidak menyambutmu maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” (QS. Al Qashash [28]: 50)

Berhukum pada manhaj Allah yang tertuang dalam Kitab Allah bukanlah perkara nafilah (anjuran), sunnah, atau pilihan. Namun merupakan perkara beriman atau tidak beriman. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab [33]: 36)

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat dari urusan (agama) itu, maka itulah syariat itu, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan mampu menolak siksa Allah atas dirimu. Sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Jatsiyah [45]: 18-19)

Karena itu, ini adalah masalah yang sangat serius. Masalah aqidah yang sangat mendasar, juga masalah masalah yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan umat manusia. Sesungguhnya umat manusia, yang merupakan ciptaan Allah, tidak akan mampu membuka pintu-pintu fitrah kecuali dengan kunci-kunci yang telah diciptakan oleh Allah. Mereka tidak bisa mengobati penyakitnya kecuali dengan penawar yang telah dibuat oleh tangan Allah yang Mahasuci. Dia-lah yang menciptakan kunci-kunci pembuka setiap gembok dan penawar bagi setiap penyakit, hanya ada di dalam manhaj-Nya. “Dan kami menurunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman …” (QS. Al Isra [17]: 82); “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus …” (QS. Al Isra [17]: 9)

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)