Sayangnya para manusia tidak mau mengambil kunci tersebut dari Penciptanya, pun membawa ‘orang yang sakit‘ kepada Penciptanya. Dalam menghadapi masalah pribadi, masalah kemanusiaan, masalah kebahagiaan atau kesengsaraan, manusia tidak mau menempuh jalan yang biasa dalam masalah peralatan dan barang elektronik yang bersifat materialistik dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Mereka mengetahui bahwa untuk memperbaiki peralatan yang rusak diperlukan ahli teknik dari produsen peralatan tersebut. Namun, manusia tidak mau menerapkan prinsip yang demikian ini pada dirinya sendiri. Mereka tidak mau membawa diri mereka kepada yang telah menciptakannya. Mereka juga tidak mau meminta penjelasan dan pembuat peralatan yang unik tersebut. Yaitu peralatan atau organ manusia yang agung, mulia, rumit, dan halus. Tidak ada yang dapat mengetahui semua rahasia dan kunci-kuncinya kecuali yang menciptakan dan membuatnya. “…Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al Anfal [8]: 43); “Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui, padahal Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al Mulk [67]: 14)




Itulah mengapa akhirnya terjadi kenestapaan umat manusia yang sesat, nelangsa dan menyimpang, tidak akan memperoleh bimbingan, tidak akan memperoleh petunjuk, tidak akan menemukan kedamaian, dan tidak akan memperoleh kebahagiaan kecuali dengan membawa fitrah kemanusiaan kepada Penciptanya yang Mahabesar, sebagaimana mereka membawa peralatan elektronik yang tak berharga itu pada pembuatnya yang kerdil.

Sikap menjauhkan kepemimpinan Islam dari umat manusia sesungguhnya adalah tragedi besar dalam sejarah umat manusia dan bencana yang menghancurkan dalam kehidupan mereka, bencana yang belum pernah dikenal bandingannya oleh mereka dalam deretan bencana yang pernah memilukan mereka. Islam pernah menggenggam kepemimpinan tersebut setelah dunia mengalami kerusakan, kehidupan yang memburuk, sehingga manusia merasakan berbagai kesengsaraan dan bencana akibat berbagai kepemimpinan busuk tersebut. “Telah muncul kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. (QS. Ar Rum [30]: 41)

Islam menerima kepemimpinan tersebut dengan Al Qur’an, dengan tashawwur dan paradigma baru yang dibawa Al Qur’an, dan dengan syariat yang bersumber dari tashawwur tersebut. Hal ini sekaligus merupakan kelahiran baru bagi manusia. Kelahiran yang secara hakikat lebih agung dibandingkan kelahiran dan pertumbuhan yang pertama. Al Qur’an telah menumbuhkan dalam diri manusia suatu  tashawwur (pandangan) baru mengenai wujud, kehidupan, nilai, dan bermacam-macam sistem, sebagaimana telah merealisasikan secara nyata suatu realitas sosial yang unik, meskipun dulu–yaitu sebelum Al Qur’an menumbuhkannya–tashawwur tersebut sekalipun tidak pernah terbetik di dalam khayalannya. Ya! Realitas tersebut dulu begitu bersih, indah, agung, penuh martabat, bersahaja, mudah, realistis, positif, serasi, dan harmonis. Karena itu, tidak pernah terlintas dalam benak manusia, jika saja Allah tidak menghendaki dan merealisasikannya dalam kehidupan mereka… di bawah naungan Al Qur’an, manhaj Al Qur’an, dan syariat Al Qur’an.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)