Pada artikel-artikel sebelumnya telah dibahas bahwa calon-calon penghuni neraka antara lain adalah orang yang menyekutukan Allah Swt (berbuat syirik), orang yang membunuh orang lain tanpa alasan yang dibenarkan, orang yang meninggalkan atau melalaikan shalat fardhu, orang munafik, orang yang durhaka kepada orang tua dan pelaku zina.

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Menyekutukan Allah (bag. 1)]

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Membunuh Tanpa Alasan yang Dibenarkan (bag. 2)]




[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Meninggalkan atau Melalaikan Shalat (bag. 3)]

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Munafik (bag. 4)]

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Durhaka kepada Orang Tua (bag. 5)]

[baca sebelumnya: Calon-Calon Penghuni Neraka – Pelaku Zina (bag. 6)]

Selanjutnya yang juga calon penghuni neraka adalah:

G. Orang yang memakan harta anak yatim

Diantara makhluk ciptaan Allah swt yang paling dimuliakan oleh Allah, salah satunya, adalah anak yatim. Sebelum masuk pada penjelasan lebih jauh mengenai anak yatim, penting bagi kita mengetahui terlebih dahulu siapa anak yatim itu. Adapun yang dimaksud dengan anak yatim adalah seorang anak laki-laki maupun perempuan yang ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum ia baligh atau dewasa.

Marilah kita pilih sekarang, antara menyayangi anak yatim atau membuatnya menderita. Mengapa pada penjelasan kali ini ada dua pilihan tersebut? Tujuannya adalah hanya untuk memberitahukan dan mengingatkan kita semua untuk lebih ingat dan menyayangi anak yatim, bukan malah menyakitinya.

Jika kita mengurus dan menyayangi anak yatim, disamping mendapatkan pahala, kita juga mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidup di dunia maupun di akhirat. Sebab, siapa yang menyayangi dan mengayomi anak yatim akan mendapatkan berkah dari Allah swt.

Baginda Rasulullah saw juga menerangkan mengenai hal ini dalam sabdanya “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di dalam surga seperti ini, setelah itu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk serta jari tengahnya sambil merenggangkan kedua jari tersebut.” (HR. Bukhari)

Sedangkan dalam sebuah hadits lain juga Rasulullah saw menegaskan bahwa orang yang memelihara anak yatim dengan baik, maka rumahnya memancarkan sinar yang indah.

Rumah yang paling baik di kalangan kaum muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim dipelihara dengan baik-baik. Dan, rumah yang paling jelek di kalangan muslimin ialah suatu rumah yang di dalamnya ada anak yatim diperlakukan dengan menderita.” (HR.Ibnu Majah)

Setelah membaca keterangan hadits diatas masihkah kita bermalas-malasan atau bahkan tidak mau mengasihi dan mengayomi anak yatim? Bayangkan, jika kita mau memelihara dan mengasihi anak yatim, maka kelak diakhirat kita akan diberikan kegembiraan dan kemudahan. Semoga juga perhatian dan kasih sayang kita terhadap anak yatim dapat menjadi jalan agar buat kita untuk Allah swt bebaskan dari siksa neraka.

Namun sebaliknya, kelak di akhirat kita akan mendapat siksa yang sangat pedih karena sikap acuh tak acuh terhadap anak yatim. Bukan hanya bersikap acuh tak acuh, mengambil harta anak yatim pun juga sangat dibenci oleh Allah swt. Adapun yang dimaksud dengan mengambil harta anak yatim adalah mengambil hak-hak dari anak tersebut, baik secara sembunyi-sembunyi maupun dengan memaksa.

Memakan harta anak yatim merupakan perbuatan dosa besar. Jangan kan sampai memakan harta anak yatim, mengabaikan hak-haknya atau tidak mengurusinya saja dianggap mendustakan agama.

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Maa’uun : 1-2)

Jangankan mengambil harta anak yatim, mendekati saja (dengan niat mengambil haknya) Allah swt sudah melarangnya.

Dan, janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji. Sesungguhnya, janji itu pasti dimintai pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Israa'[17] : 34)

Allah swt pun menegaskan bahwa orang yang memakan harta anak yatim, maka ia seperti menelan api ke dalam perutnya.

Sesungguhnya, orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (QS. an-Nisaa'[4] : 10)

Maksud dari zhalim tersebut ialah seorang yang memakan harta anak yatim dan mengambil dengan cara sembunyi-sembunyi. Misalkan, ada salah satu orang yang dipercaya untuk merawat harta seorang anak yatim, namun kemudian ia mencuri harta itu untuk kepentingan pribadinya. Perbuatan demikian dinamakan memakan harta dengan cara zhalim.

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang berbuat demikian terhadap anak-anak yatim. Semoga Allah Ta’ala memilih kita sebagai golongan orang-orang yang mencintai anak yatim. Aamiin

bersambung …

oleh : Chairunnisa Dhiee

sumber: buku ‘Dahsyatnya Neraka’ karya Syaiful Bachri az-Zidani