Lalu terjadilah suatu bencana yang membuat porak poranda, hingga Islam pun dijauhkan dari kepemimpinan dan digantikan kembali oleh jahiliyah melalui bentuk yang beragam. Yaitu melalui bentuk pola pikir materialistik (tafkir maddi) yang disenangi oleh umat manusia saat ini, seperti layaknya anak kecil yang gandrung dengan pakaian berwarna-warni dan mainan yang penuh dengan warna-warna mempesona.

Kemudian muncul pula orang-orang sesat, penipu dan musuh-musuh kemanusiaan. Yaitu mereka yang meletakkan manhaj Ilahi di satu daun timbangan dan penemuan manusia di aspek materi pada daun timbangan yang lain. Mereka lalu mengatakan kepada umat manusia, “Pilihlah! Pilihlah manhaj Ilahi tentang kehidupan atau tinggalkan segala bentuk penemuan tangan manusia dalam aspek materi.” Mereka mengambil hasil-hasil pengetahuan manusia atau melepaskan manhaj Allah. Sungguh suatu tipu daya yang terkutuk dan menjijikan.




Duduk permasalahannya sama sekali bukanlah demikian. Manhaj Ilahi sesungguhnya bukanlah musuh bagi penemuan atau kreativitas manusia. Manhaj Ilahi hanyalah  menumbuhkan inovasi tersebut dan memberikan arah yang benar, agar manusia mampu mengemban misi khilafah di muka bumi. Sebuah misi yang diberikan Allah kepada umat manusia, dengan dukungan kapasitas dan berbagai potensi yang tersimpan dan memadai dalam rangka melangsungkan kewajiban yang harus ditunaikan.

Selain itu, Allah juga menundukan kepada mereka berbagai hukum kauniyah yang dapat membantu mereka untuk mewujudkan misi tersebut. Demikian pula Dia menyelaraskan antara penciptaan struktur diri manusia dan struktur alam semesta agar mereka bisa hidup, bekerja dan berinovasi. Tentu inovasi itu sendiri harus merupakan manifestasi ibadah kepada Allah dan menjadi sebuah sarana syukur atas berbagai nikmat-Nya yang agung. Di samping berkomitmen terhadap syarat-Nya dalam akad khilafah, yaitu bekerja dan bergerak dalam ruang lingkup yang diridhoi Allah.

Sementara orang-orang yang meletakkan manhaj Ilahi di satu daun timbangan dan inovasi manusia dalam aspek materi di daun timbangan yang lain, mereka adalah orang-orang yang berniat buruk dan orang-orang jahat yang memburu umat manusia yang tengah letih dan bingung karena salah jalan, bingung, dan tersesat. Mereka adalah umat manusia yang sebenarnya ingin mendengarkan suara pemberi petunjuk dan nasihat; ingin kembali kembali dari kesesatan yang membinasakan; dan ingin mencari ketenangan di dalam rengkuhan Allah.

Ada pula orang-orang lainnya yang memiliki niat baik, namun tidak memiliki kesadaran yang memadai dan pengetahuan yang mendalam. Mereka silau oleh penemuan-penemuan manusia dalam berbagai aspek kemampuan dan hukum alam. Mereka kagum terhadap berbagai keberhasilan manusia dalam dunia materi. Kesilauan dan kekaguman itu kemudian menanamkan kesan pemisahan–antara hukum-hukum alam sebagai satu aspek dan nilai-nilai keimanan sebagai aspek lainnya–dalam hati mereka. Mereka mengira bahwa hukum-hukum alam tersebut berjalan di jalurnya tanpa terpengaruh oleh nilai-nilai keimanan; dan memberikan hasil-hasilnya baik manusia beriman atau kafir; baik mereka mengikuti manhaj Ilahi atau melanggarnya; baik mereka menerapkan syariat Allah atau mengikuti hawa nafsu manusia.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)