Sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari menyampaikan, “Perkara orang mukmin mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorangpun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya; dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.

Ada yang mengatakan bahwa kehidupan di dunia ini adalah perkara syukur dan sabar. Keduanya merupakan kunci agar kita mampu menjalani kehidupan dengan baik, serta mampu memberikan makna bagi diri sendiri dan orang lain.




Banyak orang mengibaratkan kehidupan layaknya roda yang berputar. Terkadang kita berada di bawah, terkadang kita berada di atas. Posisi di atas seringkali menggambarkan saat kondisi kita begitu baik dalam menjalani kehidupan; memiliki keluarga yang bahagia, cukup materi, dan sehat. Sementara posisi di bawah seringkali menggambarkan saat kondisi sebaliknya. Pengibaratan ini pun memberikan gambaran bagaimana suatu kehidupan berjalan dan bergerak. Menunjukkan bahwa makna kehidupan sungguhlah dinamis, dan setiap orang memiliki persepsi berbeda satu sama lain.

Jadi, what is life?

1. Life is never flat

Senada dengan pengibaratan di atas, kehidupan layaknya roda yang berputar. Dapat dimaknai pula bahwa kehidupan memang tidaklah pernah datar. Posisi kita selalu berubah karena adanya lika-liku dan gelombang yang kita lewati dalam menjalaninya. Agar kita bisa tetap berjalan dengan tegak dan tidak salah arah, maka kita harus memiliki penyeimbang. Bersyukur sebagai muslim kita sudah memilikinya, sebagaimana hadits Rasulullah Saw yang telah disebut di awal tadi. Syukur dan sabar.

Ketika berada di posisi atas, di mana kita tengah menerima banyak nikmat dan karunia dari Allah Swt, maka syukur harus menjadi penyeimbang kita, agar kita tidak terbang mengawan dan ternodai oleh sikap angkuh maupun riya. Syukur membawa kita menjadi pribadi yang selalu sadar bahwa semua ini datang dari Allah Swt. Sementara ketika berada di posisi bawah, di mana mungkin kita sedang menerima musibah, ujian, dan cobaan, maka sabar adalah penyeimbang lain yang kita butuhkan. Kita memerlukan sabar agar kita tidak terjatuh dan berkubang dalam lembah kekecewaan yang berlebihan. Sabar dibutuhkan agar kita pun tetap menyadari bahwa semua datang dari Allah Swt. Sabar akan membawa kita menjadi sadar bahwa Allah Swt memberikan ujian tersebut tidak tanpa tujuan. Sabar membuat kita senantiasa berbaik sangka dan mendorong kita untuk tetap cerdas dalam mengambil hikmah dari kejadian yang terjadi.

Syukur dan sabar adalah penyeimbang yang tepat untuk kita dalam melewati kehidupan yang tidak datar ini. Senang dan susah; mudah dan sulit; suka dan duka. Pasangan-pasangan tersebut sungguhlah suatu keniscayaan yang harus kita terima dalam kehidupan, karena life is never flat.

2. Life is process

Allah Swt sungguh Maha Adil. Dalam sebuah perkara, Dia tidak hanya melihat hasilnya tetapi juga prosesnya. Berbeda dengan kita manusia yang seringkali mengukur sesuatu dari hasilnya saja. Dalam kehidupan ini kita menjalani berbagai banyak proses. Jadi nikmati saja setiap proses yang kita tempuh, baik itu sebuah keinginan, menebar kebaikan, mencapai mimpi, atau mewujudkan visi dalam hidup. Kita mungkin sering diingatkan bahwa tugas kita sebagai manusia adalah sebatas pada ikhtiar –yang dilengkapi dengan doa tentunya– sementara Allah Swt yang akan menentukan hasilnya. Porsi kita adalah menjalani proses, sementara hasil adalah porsi Sang Maha Penentu. Nikmati setiap proses yang ada dengan senantiasa bersemangat meluruskan niat. Luruskan niat agar setiap proses yang kita jalani hanya semata-mata untuk Allah Swt dan merupakan wujud taat kita kepada-Nya. God knows best bukan hanya sekedar ungkapan. Life is process. Nikmati saja.

“… Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak.” (QS. Al Baqarah [2]: 216)

bersambung…

oleh: An Nisaa Gettar