Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”. (QS At-Tahrim[66] : 6)

Dizaman yang serba canggih dan berkembang pesat seperti saat ini, sudah jarang sekali kita lihat anak-anak bermain dengan permainan-permainan yang bukan gadget. Hampir semua anak zaman sekarang ini, lebih sering bermain dengan permainan gadget. Tidak seperti zaman dulu, zaman dimana semua hal tak secanggih saat ini, tak berkembang sepesat seperti yang kita lihat saat ini. Dimana, masih bisa kita lihat anak-anak bermain dengan bebas bersama teman-teman seumuran mereka, bermain di rumah kah, di luar rumah kah, tapi permainan yang mereka mainkan pasti masih berasal dari benda-benda di sekitar mereka. Begitu indahnya saat melihat mereka, berinteraksi, bersosialisasi, dan berfikir serta bertindak kreatif saat melakukan permainan yang sama sekali jauh dari dunia gadget.

Namun, kenyataan orang tua saat ini justru seakan mendukung sikap anak-anaknya dengan membiarkan anak -anaknya terjebak dalam dunia teknologi yang belum waktunya mereka nikmati. Tak ada yang salah memang dengan kemajuan teknologi dan perkembangan zaman yang hari demi hari berkembang, dan terus berkembang. Namun alangkah baiknya, perkembangan ini juga disikapi secara bijak dan cerdas oleh orang tua. Terutama, orang tua yang memiliki anak usia remaja.




Ibu, bapak.

Cobalah lihat bagaimana pergaulan anak-anak remaja saat ini? Yang sudah sangat jauh langkahnya dari saat kita remaja dulu. Banyaknya pengaruh negatif terhadap tumbuh kembang anak. Adakah rasa khawatir yang begitu besarnya melihat kondisi generasi muda seperti sekarang ini? Ingatlah, orang tua itu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, maka dari itu mari kita maksimalkan pendidikan untuk anak, terkhususnya adalah ilmu agama.

Ditengah harapan dan dambaan setiap orang tua yang ingin mempunyai anak cerdas, berbakti, dan berperilaku baik, sungguh miris jika melihat kenyataan anak-anak saat ini. Tidak semua anak berperilaku buruk memang, namun sudah sebagian besar. Sungguh sebuah ironi ketika melihat kondisi generasi muda kita saat ini.

Terjadi penyimpangan perilaku, budaya, dan tata krama akibat dari teknologi yang tidak terbatas dan adanya keinginan untuk mengikuti budaya lain yang tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran.

Coba kita lihat lagi ke belakang, ke 10 tahun lalu saja, fasilitas dan teknologi saat itu masih terbatas, bahkan handphone pun menjadi suatu barang yang mahal untuk dimiliki. Jangankan membelikan anak handphone, orang tua zaman dulu sangat jarang memiliki handphone, sungguh berbanding terbalik dengan kondisi saat ini. Handphone sungguh mudah dimiliki, orang tua memiliki handphone lebih dari satu, begitu pun dengan anaknya yang sudah memiliki handphone kelas atas, yang sebenarnya belum terlalu penting untuk dimilikinya.

Ibu, Bapak.

Sadarkah kita bahwa kita sendiri yang memberikan neraka ke tangan anak-anak kita? Di zaman yang serba canggih ini, teknologi semakin murah dan semakin mudah di akses. Dan sadarkah kita kemudahan akses itu menawarkan kemudahan juga untuk menjelajahi dunia digital di seluruh dunia. Sehingga apabila tidak ada filter untuk membatasi akses tersebut, sangat memungkinkan konten-konten berbau pornografi dan kekerasan ditonton oleh anak-anak. Tidak kah kita khawatir?

Ibu, Bapak.

Mari kita sudahi semua ini, sudahi dunia anak kita yang seakan bergantung pada gadget, sudahi pikiran dan jiwa anak kita yang sudah lama terpenjara dalam dunia digital. Mari sama-sama kita ajak mereka kembali untuk melihat dunia nyata yang tak kalah luasnya dengan dunia digital yang mereka agung-agungkan itu. Mari kita perkenalkan lagi anak-anak kita dengan al-Quran, ajarkan lagi mereka tentang al-Quran. Bukankah Al-Quran sebagai sumber kebaikan dari segala kebaikan. Sumber dari rasa cinta yang ada di dunia dan sebagai pedoman hidup yang diharapkan bisa memberi energi positif yang mampu memengaruhi tumbuh kembang anak, sehingga akan menjadi generasi cerdas yang berperilaku baik. Tidakkah kita menginginkan anak-anak kita menjadi generasi Qur’ani, sebuah generasi layaknya Qur’an berjalan? Bukankah dengan Qur’an, Allah swt akan memuliakan sebuah generasi? Dan bukankah Allah swt akan menghinakan sebuah generasi yang mengabaikan Qur’an?

Oleh : Chairunnisa Dhiee