Hal tersebut adalah ilusi, yaitu pemisahan antara dua jenis sunnah Ilahiyah yang pada hakikatnya terpisah. Karena nilai-nilai keimanan tersebut adalah bagian dari sunnah Ilahiyah di alam semesta sebagaimana halnya hukum-hukum alam yang ada dan tidak ada bedanya. Hasil-hasilnya terkait satu sama lain dan saling berkelindan. Tidak ada alasan untuk memisahkan antara kedua sunnah Ilahiyah tersebut dalam cita rasa seorang mukmin dan tashawwur-nya. Seperti inilah tashawwur yang benar yang dibangun oleh Al Qur’an di dalam diri manusia ketika mereka hidup di bawah naungan Al Qur’an. Al Qur’an membangun tashawwur ini ketika berbicara tentang ahli kitab terdahulu dan berbagai penyimpangan mereka berikut akibat penyimpangan di akhir babak kehidupan mereka.

“Dan sekiranya ahli kitab beriman dan bertaqwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka dalam surga-surga yang penuh kenikmatan. Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan manusia.” (QS. Al Maidah [5]: 65-66)




Al Qur’an membangun tashawwur ketika berbicara tentang janji Nuh kepada kaumnya, “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu–sesungguhnya Dia Maha Pengampun–niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun  dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Al Qur’an membangun tashawwur ini ketika mengaitkan antara realitas diri manusia dan realitas eksternal yang diperbuat Allah terhadap mereka. “… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka…” (QS. Ar Ra’d [13]: 11)

Iman kepada Allah, beribadah kepada-Nya dengan istiqamah, dan menegakkan syariat-Nya di muka bumi, sesungguhnya merupakan pelaksanaan sunnah-sunnah Allah. Yaitu sunnah-sunnah yang berdaya dan positif, yang muncul dari satu sumber yang juga memunculkan semua sunnah kauniyah yang pengaruhnya secara nyata dapat kita saksikan dengan indera dan eksperimen.

Kadang-kadang kita terkecoh oleh bermacam fenomena yang menipu dalam memisahkan sunnah-sunnah kauniyah, karena kita menyaksikan orang-orang yang mengikuti hukum-hukum alam tersebut mencapai keberhasilan meskipun mereka melanggar nilai keimanan. Pengaruh pemisahan ini bisa jadi tidak tampak di awal, namun pasti akan tampak pada akhirnya. Hal seperti inilah yang dialami masyarakat Islam sendiri. Garis awal ‘tinggal landas’ masyarakat ini diawali dengan titik pertemuan antara hukum-hukum alam dalam kehidupan manusia dan nilai-nilai keimanan. Sementara garis awal kejatuhannya berawal dari pemisahan antara keduanya. Masyarakat Islam akan selalu jatuh setiap kali sudut kesenjangan semakin lebar, hingga sampai ke titik terendah di mana hukum-hukum alam dan nilai-nilai keimanan tersebut diabaikan kedua-duanya.