Perpaduan budaya antara Islam dan China masih dapat dilihat dari masjid-masjid muslim Hui hari ini. Sebuah bangunan semacam kuil biasanya dibangun di atas makam para ulama Sufi (seperti masyarakat Jawa yang membangun bangunan semacam pendopo di makam para wali). Bahkan ada kuil yang memiliki 8 menara yang melambangkan simbol kosmologi ajaran Tao, dengan hiasan kaligrafi Arab dan simbol Yin Yang. Seorang narasumber mengatakan bahwa perpaduan budaya ini salah satu cara mereka untuk mempertahankan Islam di China.

[sebelumnya baca: Karakteristik China pada Masjid-Masjid Muslim Hui (Bag 1)]




Bentuk-bentuk distorsi dalam rangka adaptasi ini seringkali dikritisi oleh para pelajar Hui yang telah belajar Islam ke luar negeri. Salah satunya adalah Imam Ma Jun, yang pada tahun 1995 meninggalkan kampung halamannya di Lanzhou, Gansu, untuk mempelajari hukum syariah di Islamic University of Madinah, Arab Saudi. Dia pulang setelah lima tahun belajar di luar negeri. Ia merasa memiliki tanggung jawab akan hal ini. Ia pun mengatakan bahwa muslim China tidak memiliki keyakinan yang cukup dan kebanyakan pemahaman mereka masih kurang.

Muslim Hui lainnya yang belajar Islam di luar negeri adalah Ma Xin yang merupakan mahasiswa dari Al Azhar University, Kairo, Mesir, dan mengatakan bahwa muslim Hui kerap memadukan tradisi China ke dalam Islam hingga menyalahi ajaran syariat. “Nenek saya contohnya. Dia memberi ulama sejumlah uang untuk mendoakan dirinya, membakar dupa, dan menyajikan abu jika kita sedang sakit,” ujar Ma. Ia mengatakan bahwa menurut tradisi China, membakar dan meminum air abu hasil pembakaran kertas mantra dapat menyembuhkan penyakit. “Saya tidak bisa terima ini. Karena ini memutarbalikkan ajaran Islam.” Ma semakin memahami kekeliruan tersebut sejak mengenal pergerakan Yihewani (Ikhwan) yang dibawa oleh reformis dari Gansu bernama Ma Wanfu pada akhir abad ke-19. (Ma merupakan kependekan untuk Muhammad, yang biasa digunakan muslim China untuk nama mereka).

(Foto: www.chinafile.com)

(Foto: www.chinafile.com)

Ketika Ma Jun pulang ke China, dia mendirikan sekolah agama informal. Pada tahun 2000 dia membangun sekolah Arab di Guanghe, salah satu kota besar di provinsi Gansu selain Lanzhou dan Linxia. Kemudian pada tahun 2008, dia mulai mengajarkan pelajaran agama melalui sebuah program untuk siswa minoritas di sekolah negeri di Lanzhou. Sebenarnya peraturan di China melarang materi agama diajarkan di sekolah, karena itu pada tahun 2010 pemerintah menutup program tersebut.

Salah satu hal lainnya yang keliru menurut mereka adalah banyaknya bangunan masjid di Linxia (hingga mencapai ribuan), tetapi muslimnya sendiri masih cenderung kurang merefleksikan nilai-nilai keislaman. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa membangun masjid adalah cara untuk mengekspresikan keyakinan mereka, tapi tentunya tujuannya harus lebih dari itu, yaitu menjaga kemurnian aqidah Islam itu sendiri.

Hal ini sesungguhnya mengingatkan kita akan pentingnya dakwah dalam menegakkan syariat Islam dengan yang sebenar-benarnya. Dakwah diperlukan agar agama Islam terjadi dari unsur-unsur dan pemahaman yang keliru. Islam merupakan salah satu agama yang diakui di China (selain Budha, Tao, Katolik, dan Kristen). Semoga semakin banyak muslim-muslim di sana yang memiliki pola pikir seperti Ma Jun dan kawan-kawannya. Semoga mereka senantiasa tidak lelah berjuang menegakkan Islam, sehingga pemahamam muslim di sana pun sejalan dengan semakin banyak masjid yang dibangun. Dan semoga Allah Swt selalu memberikan perlindungan-Nya untuk saudara-saudara kita di sana.

(Sumber: www.chinafile.com)