Konsekuensi Beriman (bag. 1)




Mereka (bekas tukang-tukang sihir Fir’aun yang telah beriman kepada Musa) berkata, Sekali-kali kami tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat)  yang telah datang kepada kami dari Tuhan yang menciptakan kami. maka hukumlah menurut sesukamu. Sesungguhnya kamu hanya dapat menghukum dalam kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan dosa melakukan sihir yang kamu paksakan atas diri kami. Allah lebih baik (pahalanya) dan lebih kekal (siksanya)” (QS Thaha[20] : 72-73)

Kebenaran yang tak bersenjata itu dengan gagah berani menghadapi dan menentang kebatilan yang bersenjata lengkap. Begitulah Nabiyullah Musa as sebagai utusan Allah swt tegak berdiri menghadapi Fir’aun si raja yang congkak dan penindas rakyat, dengan mengatakan,

Sesungguhnya kami adalah utusan Rabb seru sekalian alam. Lepaskanlah olehmu Bani Israil pergi bersama kami. (QS Asy-Syu’araa'[26] : 16-17)




Itulah suatu seruan yang mengajak menusia menuju kepada kemuliaan, yaitu kemerdekaan, kebebasan persamaan, keadilan, dan kesadaran. Biarkan mereka menghirup udaraa kemerdekaan dan kebebasan dalam kehidupan, janga ditindas dan ditekan. Biarkanlah mereka bebas dan merdeka sebagaimana keadaannya ketika dilahirkan oleh ibunya.

Fir’aun si raja tiran itu tak mau mengerti akan seruan yang mulia itu walaupun telah jelas bahwa seruan (dakwah atau ajakan) tadi adalah benar. Bahkan:

Dia mengumpulkan pembesar-pembesarnya lalu berseru memanggil kaumnya seraya berkata lantang, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi!” (QS An-Naazi’aat[79] : 23-24)

Dan berlaku angkuhnya Fir’aun dan bala tentaranya di muka bumi.(QS Al-Qashash[28] : 39)

Lalu katanya lagi:

“Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku” (QS Al-Qashash[28] : 38)

Setelah itu Fir’aun mengirimkan petugas-petugasnya untuk mengumpulkan bala tentaranya ke kota-kota (QS Asy-Syu’ara : 55) agar mereka datang kepadanya dengan membawa tukang-tukang sihir yang pandai (QS Yunus[10] : 79)

Karena undangan si raja kafir itu, maka berdatanganlah tukang-tukang sihir yang hatinya telah dipenuhi rasa benci, dendam serta tamak (rakus). Di samping itu mereka sudah membayangkan harta kekayaan dan pangkat yang dijanjikan Fir’aun kepadanya. Mereka berkata, “Adakah hadiah untuk kami, jika kami yang menang?” Fir’aun menjawab, “Ya, bahkan kamu akan termasuk bilangan orang yang terdekat kepadaku.” (QS Asy-Syu’ara'[26] : 42-43)

Tukang-tukang sihir itu percaya dengan segala janji Fir’aun, mereka percaya penuh akan kekuasaan, kekuatan dan keampuhan Fir’aun yang mereka pertuhankan.

Mereka lalu melemparkan tali-temali dan tongkat-tongkatnya seraya berkata, “Demi keagungan Fir’aun, pasti kami akan menang.” (QS Asy-Syu’ara[26] : 44)

Tampak oleh Musa tali-temali dan tongkat-tongkat mereka. Itu merayap dengan cepat disebabkan oleh sihir mereka. Musa merasa gentar dan timbul rasa takutnya. Tetapi kemudian hatinya tenang kembali dan terdengarlah olehnya suatu seruan dari langit :

“Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari manapun ia datang.” (QS Thaha[20] : 68-69)

bersambung…

 

Oleh : Syaikh Hasan Al-Banna

Leave a Reply