Mengapa Wanita Yang Pertama Kali di Hancurkan oleh Yahudi?




Seorang psikolog terlihat resah. Ia diberitahu oleh seorang psikolog muslim yang juga rekannya yang baru saja berhasil menasehati orang tua seorang anak. Pasalnya mungkin tidak sepele, psikolog muslim itu menerima aduan “unik” dari orang tua yang memiliki anak berusia tiga tahun.

Rupanya anak ini memiliki kebiasaan tidak lazim. Ia sering terlihat tidak bisa tenang, mudah meledak dan, juga menyimpan kebiasaan aneh : kerap menggaruk-garuk (maaf) anusnya. Lalu sebagai seorang psikolog muslim, pada orangtua si anak, ia mengatakan bahwa tingkah laku anaknya normal. Dengan ilmu psikologinya, ia menganalisa perangai itu disebabkan karena anak sedang menjalani sebuah tahap perkembangan seksual yang normal pada masa anal. “Itu biasa, bu. Tidak usah khawatir,” begitu kira-kira pesan si psikolog muslim itu kepada sang ibu.

Mendengar cerita ini, si psikolog tadi tercengang. Ia kaget mendapati seorang psikolog muslim memberi nasehat dengan kata-kata seperti itu. Karena bagaimana tidak? Nasihat psikolog muslim tersebut nyata-nyata didasarkan pada teori Freud.




Adalah Sigmund Freud, beliau menyatakan bahwa kepuasan insting seksual seorang anak pada usia ini diperoleh dengan cara menahan dan mengeluarkan kotoran. Hal itu akan sedikit banyak membuat anak kerap menggaruk bokongnya berkali-kali sebagai sebuah kenikmatan.

Freud memang beranggapan sumber kebahagiaan manusia bukanlah agama, namun seksualitas. Agama justru sebaliknya. Ia adalah ilusi. Ilusi yang sengaja diciptakan manusia dari mimpi-mimpinya. Seperti jika kita berdoa, kita tahu Tuhan tidak terlihat, tapi Tuhan sengaja “dihadirkan” manusia agar yakin doanya makbul.

Kisah diatas ini dibacakan oleh DR. Malik Badri pada tahun 1975 dalam rapat tahunan ke 4 Perkumpulan Ilmuwan Sosial Muslim (AMSS) Amerika dan Kanada. DR Malik Badri sendiri adalah seorang akademisi muslim asal Sudan yang kini mengajar di Fakultas Psikologi, Universitas Kebangsaan Malaysia. Saat itu secara lantang ia membaca makalah berjudul “Psikolog Muslim dalam Liang Biawak”. Tulisan itu sendiri mengguncang denyut nadi tiap ilmuwan muslim yang hadir atas sekularisme ilmu yang melanda mereka.

Kata akademisi yang beberapa bulan lalu sempat mengunjungi Indonesia itu, pemakaian kalimat “dalam lubang biawak” sengaja dipakainya karena bersumber dari hadits terkenal Nabi Muhammad saw ketika beliau meramalkan bahwa akan tiba saatnya nanti orang-orang Islam secara membabi buta mengikuti cara hidup orang-orang Yahudi dan Kristen. “Hal ini dengan indahnya diungkapkan dalam pertanyaan nabi: bahkan jika mereka masuk dalam lubang biawak sekalipun, orang Islam tanpa pikir panjang akan mengikutinya,” tulis DR. Malik Badri pada makalah yang kini telah menjadi buku berjudul “Dilema Psikolog Muslim”.

Rupanya infiltrasi teori dari seorang pengikut mazhab Hasidisme Yahudi bernama Sigmund Freud itu betul-betul menghabisi harga diri perempuan. Kita lihat pengembangan ide yang digariskannya pada teori (maaf) penis ency (kecemburuan penis).

Leave a Reply