Hidup di Bawah Naungan Al Qur’an – Muqaddimah (Bag 10)




Di satu sisi sekarang tengah berdiri peradaban materialis. Peradaban ini berdiri tegak layaknya burung yang mengepakkan satu sayap perkasanya, namun satu sayap lainnya lemah lunglai. Peradaban ini sukses mencapai kemajuan dalam bidang penemuan materi, namun gagal di bidang nilai kemanusiaan. Manusia mengalami kecemasan, kebingungan, berbagai penyakit jiwa, dan saraf, sehingga mereka yang berakal sehat sampai berteriak, jika saja mereka tidak mendapatkan petunjuk kepada manhaj Allah–sebagai satu-satunya terapi dan obat.

Syariat Allah sesungguhnya dibuat untuk manusia, dan merupakan bagian dari keseluruhan hukum-hukumNya yang secara universal berlaku di alam semesta ini. Karena itu, pelaksanaan syariat ini pasti memiliki pengaruh positif di dalam penyelarasan antara gerak kehidupan manusia dan gerak kehidupan alam semesta. Syariat tidak lain merupakan buah keimanan yang tidak mungkin berdiri sendiri tanpa pohon induknya. Syariat dibuat untuk diterapkan di dalam masyarakat muslim, sebagaimana dibuat dalam rangka memberikan andil dalam pembangunan masyarakat muslim. Syariat ini melengkapi satu sama lain dengan keseluruhan tashawwur Islami mengenai wujud semesta yang agung dan wujud manusia. Pun dengan apa yang ditumbuhkan oleh tashawwur ini berupa ketaqwaan di dalam hati, kejernihan perasaan, perhatian terhadap hal-hal yang utama, keunggulan akhlaq, serta itiqamah dalam berperilaku. Seperti itulah, tampak jelas saling menyempurnakan (takamul) dan saling menyelaraskan (tanasuq) antar keseluruhan sunnah Allah baik apa yang kita sebut dengan hukum alam atau apa yang kita sebut dengan nilai-nilai keimanan. Semuanya adalah bagian dari sunnatullah yang lengkap dan sempurna untuk wujud ini.




Demikian pula manusia, mereka merupakan salah satu kekuatan di antara kekuatan-kekuatan yang ada di alam wujud ini. Pun dengan perbuatan, kehendak, keimanan, kesalihan, ibadah, dan aktifitasnya… yang merupakan kekuatan dengan pengaruh positif dalam wujud ini. Mereka berkaitan erat dengan sunnatullah yang lengkap dan sempurna untuk alam wujud ini. Semuanya bekerja secara koordinatif dan akan memberikan hasil-hasilnya secara utuh saat terjadi saling mendukung dan menyelaraskan, tetapi hasil-hasil itu akan rusak dan kacau, sehingga timbul kerusakan dalam kehidupan dan menyebarluaskan kesengsaraan dan kehancuran di tengah masyarakat manusia manakala terjadi perpisahan dan benturan.

“Yang demikian itu adalah karena Allah tidak akan mengubah nikmat yang diberikan-Nya kepada suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Anfal [8]: 53)

Jadi, ada keterkaitan yang sangat erat antara perbuatan dan perasaan manusia dengan berbagai peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup sunnah Ilahiyah yang meliputi seluruh alam imi. Tidak ada yang mendorong perusakan ikatan ini, tidak ada yang menyerukan pengacauan keserasian ini, tidak ada yang menghalangin manusia dari sunnatullah yang berlaku ini, kecuali musuh manusia yang memburu tanpa petunjuk, meskipun seharusnya mereka yang perlu dikejar dan digiring menuju Tuhannya yang Mahamulia.

Itulah lintasan dan kesan yang bisa aku catat dari masa-masa kehidupan di bawah naungan Al Qur’an. Semoga Allah berkenan menjadikannya bermanfaat dan bisa memberi petunjuk. Dan tidaklah kamu berkehendak kecuali apa yang dikehendaki Allah.

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)

Leave a Reply