“Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari manapun ia datang.” (QS Thaha[20] : 68-69)

[baca sebelumnya: Konsekuensi Beriman (bag. 1)]

Benar, setelah tongkat Musa dilemparkan mendadak sontak berubah menjadi seekor ular yang sangat besar, lalu menelan ular bikinan tukang-tukang sihir itu. Seakan-akan memancar sinar keimanan dari tongkat Musa, dan demi melihat tali temali dan tongkat-tongkat mereka yang mtelah disulap menjadi ular itu ditelan oleh ular yang menjelma dari tongkat Musa maka tunduklah hati mereka. Ya, tongkat-tongkat kesyirikan telah ditelan oleh tongkat keimanan.




Maka tersungkurlah ahli-ahli sihir sambil bersujud (kepada Allah), mereka berkata: “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.” (QS Asy-Syu’ara[26] : 46-48)

Melihat hal yang demikian itu Fir’aun semakin menjadi gilanya, ia naik pitam lalu membuat rencana yang jahat lagi sambil mencerca :

“Apakah kamu sekalian beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia benar-benar pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu maka kamu nanti pasti benar-benar akan mengetahui (akibat perbuatanmu)” (QS Asy : Syu’ara[26] : 49)

Fir’aun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini)” (QS Al-A’raf[7] : 123)

Tidak sampai disitu, Fir’aun semakin meradang dan mengancam penuh amarah pada orang-orang yang mempercayai Musa dan menjadi pengikutnya.

“sesungguhnya aku (Fir’aun) akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian secara bersilang, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.”  (QS Thaha[20] : 71)

Ancaman dan ultimatum kemarahan Fir’aun yang demikian itu sama sekali tidak mempengaruhi hati mereka yang telah dipenuhi ma’rifah kepada Allah dan berkeinginan untuk memperoleh keridhaan-Nya. Rasa takutnya kepada Allah telah menghilangkan rasa takut kepada siapa pun. karena itu, ketika mendengar ancaman Fir’aun mereka hanya menjawab dengan :

Sekali-kali kami tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat)  yang telah datang kepada kami dari Tuhan yang menciptakan kami. maka hukumlah menurut sesukamu. Sesungguhnya kamu hanya dapat menghukum dalam kehidupan dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan dosa melakukan sihir yang kamu paksakan atas diri kami. Allah lebih baik (pahalanya) dan lebih kekal (siksanya)” (QS Thaha[20] : 72-73)

Sebelumnya mereka hanya bergelut dengan kehidupan duniawi beserta kesenangannya yang tak bernilai itu. Adapun setelah hati mereka disentuh oleh keimanan dan sesudah mereka mengetahui rahasia kehidupan dunia ini. Kemudian setelah menimbang dan membandingkan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat yang kekal abadi daripada kehidupan dunia yang sementara. Mereka lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di sisi mereka sendiri.

Apa yang ada di sisimu akan lenyap. Dan apa yang ada pada Allah adalah kekal.” (QS An-Nahl[16] : 96)

Wahai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah iman dalam arti kata yang sesungguhnya, yaitu berupa keyakinan yang benar, yang menggetarkan hati dan perasaan, yang menuntun hasrat dan kemauan, yang selalu melahirkan perkataan yang jujur dan benar, yang senantiasa menggerakkan anggota badan untuk beramal, dan menumbuhkan perasaan takut hanya kepada Allah Penguasa alam semesta.

Tiada yang ditakuti kecuali hanya Allah semata. Dan dunia dipandangnya kecil belaka, hingga tampak tak lebih besar dari sekedar keratan kuku hitam. Oleh karena itu, tak akan mampulah dunia menghentikan para penyeru kebenaran dari menyuarakan kebenaran.

Fahal antum mu’minun? Adakah kalian itu orang-orang yang benar-benar beriman?

 

Oleh : Syaikh Hasan Al-Banna