Banyak orang mengibaratkan kehidupan layaknya roda yang berputar. Terkadang kita berada di bawah, terkadang kita berada di atas. Posisi di atas seringkali menggambarkan saat kondisi kita begitu baik dalam menjalani kehidupan; memiliki keluarga yang bahagia, cukup materi, dan sehat. Sementara posisi di bawah seringkali menggambarkan saat kondisi sebaliknya. Pengibaratan ini pun memberikan gambaran bagaimana suatu kehidupan berjalan dan bergerak. Menunjukkan bahwa makna kehidupan sungguhlah dinamis, dan setiap orang memiliki persepsi berbeda satu sama lain.

Jadi, what is life?

[baca sebelumnya: Makna Kehidupan, Life Is… (bag. 1)]




3. Life is choice

Hidup adalah pilihan. Dalam menjalani roda kehidupan ini, tidak dipungkiri bahwa kita selalu dihadapkan pada suatu pilihan. Kadang kita menghadapi pilihan yang mungkin sama-sama baik, atau sebaliknya. Namun, ada juga pilihan-pilihan yang begitu mendasar. Memilih hal yang benar atau salah? Baik atau buruk? Positif atau negatif? Beragama atau tidak beragama? Taat atau durhaka?

Di sinilah kita memerlukan pedoman –selain mengandalkan akal dan pikiran kita– dalam menentukan sebuah pilihan. Kita yang muslim sudah seharusnya  kembali pada pedoman kita, Al Qur’an dan Hadits. Mencari jawaban untuk meningkatkan keyakinan dan memenuhi kebutuhan logika tentu boleh kita lakukan. Namun tentunya sangatlah tidak tepat, jika kita membantahnya atas dasar logika. Allah Swt menjamin kemurnian Al Qur’an hingga Hari Pembalasan. Mari bersikap bijak dengan kembali pada pedoman terbaik yang kita miliki. Jadikan pedoman tersebut untuk membantu kita dalam menentukan pilihan, because life is choice.

4. Life is commitment

Setiap pilihan akan melahirkan sebuah komitmen. Life is choice, so that it is about commitment matters. Setelah kita menentukan pilihan, maka sudah selayaknya kita berkomitmen atas pilihan yang kita buat. Komitmen merupakan wujud tanggung jawab atas pilihan yang kita tentukan. Sebagai muslim kita pun harus memahami dengan baik bahwa tanggung jawab adalah sikap yang harus kita miliki. Perkara tanggung jawab tidak hanya berhenti di dunia saja, melainkan sampai akhirat. Dengan kata lain, komitmen yang lahir dari pilihan kita sesungguhnya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

“Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.” (QS. Al Mudatsir[74] : 38)

Komitmen juga merupakan wujud cinta dan kasih sayang. Menjadi muslim yang berkomitmen, menandakan bahwa ini adalah bentuk cinta kita kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Kita tidak ingin membuat sesuatu yang kita cintai kecewa. Sebagaimana seorang anak yang berkomitmen kepada ayahnya, maka dia akan menyayangi dan bertanggung jawab sepenuh hati. Seperti sebuah kutipan bijak dalam sebuah buku, cinta sejati adalah cinta yang sepaket dengan tanggung jawab.

5. Life is temporary

Kehidupan di dunia hanyalah sementara. Sebagai muslim kita sudah seharusnya kita mengimani akan adanya kehidupan akhirat. Kehidupan memiliki waktu dan tidak selamanya kita akan berada di sini (dunia). Akan tiba waktunya kita akan pergi meninggalkannya. Mungkin kita pernah mendengar hal ini sebelumnya, bahwa ada tiga misteri dari kematian seorang manusia: waktu, tempat, dan sebab. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggal; di mana kita akan meninggal; dan penyebab kita meninggal. Oleh karenanya, mari manfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya dan bijak, sebelum kita terlambat menyadari bahwa life is temporary.

Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al A’laa[87] : 17)

Allahu a’lam bish shawwab.

 

oleh: An Nisaa Gettar