Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.Mumtahanah : 8)

Kita diciptakan dengan berbagai bangsa dan suku untuk saling ta’aruf, mengenal satu dengan yang lain. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat[49] : 13)

Islam  juga tidak pernah melarang manusia yang berbeda akidah untuk hidup berdampingan secara damai. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8-9, yang berbunyi




Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Oleh karena adanya perbedaan, maka sikap saling menghormati dan menghargai adalah suatu keniscayaan. Sikap saling menghormati dan menghargai itu tidak terbatas pada orang yang memiliki akidah yang sama. Terhadap orang yang berbeda akidah pun perlu dikembangkan sikap saling menghormati dan menghargai. Begitulah konsep Islam terkait hidup bermasyarakat bersama dengan orang-orang yang berlainan keyakinan.

Rasulullah saw termasuk orang yang menjunjung tinggi sikap toleransi antar-umat. Beliau menghormati dan menghargai siapa saja sepanjang tidak terjadi pencapuradukan urusan syariat.

Suatu hari ada iring-iringan jenazah lewat, lalu Rasulullah saw berdiri menghormatinya. Beberapa sahabat pun ikut berdiri bersama beliau. Melihat sikap Rasulullah saw yang dirasa aneh, sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah Yahudi.”

Rasulullah saw pun menjawab, “Sesungguhnya kematian itu menggetarkan, maka berdirilah jika kalian melihat iring-iringan jenazah.”

Saat Rasulullah saw hijrah ke Madinah, di kota itu banyak orang Yahudi yang sudah menetap. Rasulullah saw pun berinteraksi dengan mereka dan membuat perjanjian yang kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah. Salah satu isinya berbunyi, “Orang Yahudi mempunyai (hak melaksanakan) agama mereka dan kaum Muslimin mempunyai (hak melaksanakan) agama mereka.”

Rasulullah saw juga bertetangga dengan kalangan Nasrani dan biasa memberi hadiah kepada mereka. Suatu ketika utusan Nasrani Habsyah (Ethiopia) datang kepada beliau. Beliau pun menghormatinya, “Mereka adalah orang-orang yang dihormati di lingkungan mereka. Aku ingin menghormati mereka oleh diriku sendiri,” tutur beliau.

Begitulah sikap Rasulullah saw terhadap non-Muslim, tetap memberi penghormatan dan penghargaan.

Khalifah Umar bin Khattab ra, pernah di datangi seorang wanita Nasrani yang mengadu karena rumahnya digusur oleh Gubernur Mesir, Amr bin Ash, untuk perluasan masjid. Meski telah diberi ganti rugi, si wanita Nasrani menolak untuk pindah. Setelah melakukan klarifikasi, Umar pun memerintahkan untuk membongkar kembali bagian masjid yang dibangun di atas lahan wanita itu.

Demikianlah Islam mengajarkan kita tentang bagaimana hidup dalam keberagaman. Maka tidaklah mengherankan jika di negeri-negeri yang mayoritas muslim, maka kita dapati penganut agama-agama lain dapat dengan bebas menjalankan agamanya. Namun sebaliknya, tidak sedikit kita dengar saudara-saudara muslim kita yang berada di negeri-negeri yang mayoritas non muslim mengalami kesulitan untuk menjalankan agamanya.

Ajaran Islam yang demikian indah memandang perbedaan dalam beragama ini, yang membuat ummat Islam tidak dapat menerima jika ada seseorang, siapapun dia, melakukan penistaan terhadap agama lain di depan publik yang beragam secara agama.  Membiarkan penista agama tidak di hukum, sama saja dengan membiarkan tersebarnya bibit-bibit permusuhan antar ummat yang berbeda agama. Jika penista agama dibiarkan bebas, maka sama saja kita memperboleh tumbuh suburnya perkataan-perkataan atau pernyataan-pernyataan yang saling menghina antar ummat beragama. Apabila terlah terjadi seperti ini, sudah dapat dipastikan, kedamaian akan pergi dari negeri Indonesia tercinta. Maka sudah sepatutnya penista agama harus menerima konsekuensi hukum.