Senja datang untuk kembali mengawali malam. Langit timur tampak indah dengan sapuan siluet jingga yang meliputi matahari sore yang tengah separuh terbenam. Sebuah lukisan yang menunjukkan bahwa ada Sang Maha di atas sana yang telah memberikan keindahan-keindahan bagi para penghuni semesta-Nya. Hari yang cerah. Sejak pagi tadi, tetes-tetes dari langit tak turun menyapa. Sejak fajar menyingsing, langit terang dengan awannya yang putih yang bergerak di antara hamparan langit biru.

Aku mempercepat laju mobilku. Setengah jam yang lalu aku baru saja membelikan sekotak es krim dari salah satu minimarket yang berada di sisi jalan yang kulewati. Sekotak es krim yang sudah kujanjikan untuk putra semata wayangku. Aku lupa membawa termos pendingin yang biasanya kubawa jika membeli es krim. Aku tak mau putraku kecewa jika es krim yang kubelikan meleleh sebelum dimakan sehingga aku berusaha sebisa mungkin untuk segera sampai di rumah.

Kaki kananku refleks menginjak pedal gas mobil. Di depanku sebuah mobil boks mendadak berhenti. Kubuka kaca jendela mobilku dan kulongok dari dalam mobil untuk melihat situasi di jalan. Macet. Sudah dapat kupastikan aku akan terlambat sampai rumah. Kulirik es krim yang masih berada dalam bingkisan plastik di sebelahku. Ah… seharusnya kubeli saja di minimarket yang berada di dekat kompleks. Benar-benar tak terpikir olehku. Tetapi, mungkin karena aku cukup kelelahan sehingga pikiranku sedikit kacau.

Aku meraih ponsel dari dalam tasku. Sambil menunggu hingga mobil bisa melaju, kuputuskan untuk menelepon suamiku. Kutekan angka satu. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Jawaban dari operator membuatku langsung mengakhiri panggilan.




Setelah kurang lebih setengah jam berada di tengah kemacetan, mobilku kembali melaju. Kira-kira limabelas menit kemudian aku sampai di rumah.

“Assalamua’alaikum…”

“Mamaaa!” Adib, putraku, berlari menghampiriku.

Kusambut uluran tangan mungilnya yang menyalami dan mengecup punggung tanganku. “Mama mau shalat Mangrib dulu ya,” ucapku sambil mengacak rambutnya. Dia mengangguk sambil tersenyum.

Selesai shalat aku menghampiri Adib yang tengah bersiap untuk makan di ruang makan. Kubawakan es krim yang kubeli tadi. Tentu saja sudah meleleh.

“Maaf ya sayang, es krimnya meleleh. Tadi di jalan macet jadi Mama kelamaan di mobil,” kataku sambil membuka es krim tersebut dan memasang wajah menyesal.

“Yaahh Mama…” Adib terlanjur kecewa. Bocah itu meletakkan kembali sendok di tangannya dan beranjak meninggalkanku. Ia berlalu masuk ke kamarnya. Aku mengembuskan napasku perlahan. Kususul ia di kamarnya. Aku harus membujuknya untuk makan malam.

***

“Berhenti?” tanyaku terperanjak.

“Iya Bu, kemarin tetangga di kampung melamar saya dan saya berencana menikah, terus mau tinggal di kampung sama suami, Bu.” Sore itu Mbak Tuti mengutarakan niatnya padaku untuk berhenti kerja.

Aku hanya bisa mengiyakan. Aku sama sekali tak membujuknya untuk tetap kerja. Meskipun tanpa perlu ditanya aku masih sangat membutuhkan dia untuk mengurus pekerjaan rumah. Tetapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi pilihan Mbak Tuti. Dan aku tidak mau memaksa.

Aku pun mengiyakan. Aku mengucapkan banyak terimakasih padanya karena selama ini mau bekerja denganku mengurus pekerjaan rumah. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu, ia bekerja dengan sangat baik. Aku hampir-hampir tak pernah dibuatnya kecewa. Mbak Tuti juga mengurus Adib dengan sangat baik. Dia selalu mengurus keperluan putraku tersebut, mulai dari bangun tidur, mengantarnya ke sekolah, makan, menemaninya bermain, hingga malamnya tidur lagi. Aku benar-benar bersyukur.

Pagi itu aku, Mas Arya, dan Adib mengantar Mbak Tuti ke stasiun. Ia berencana pulang ke kampungnya hari ini. Kusaksikan wajah Mbak Tuti dengan mata yang sembab setelah memeluk Adib.

“Mbak Tuti jangan lama-lama perginya ya,” ujar Adib polos.

Sementara Mbak Tuti hanya tersenyum. “Adib jangan nakal ya. Nurut sama Mama dan Papa.” Mereka kembali berpelukan.

Ah… tentu saja aku sangat tersentuh melihat pemandangan di depanku. Aku baru menyadari bahwa antara putraku dan Mbak Tuti memiliki hubungan yang sangat erat. Tampak lebih dari sekedar anak dan pengasuh. Aku bisa melihat dari raut keduanya. Betapa tidak? Wanita itu sudah mengurusnya sejak bayi hingga sekarang. Ikatan batin keduanya secara tidak langsung telah terjalin. Entahlah, ada sedikit perasaan cemburu tetapi juga haru. Cemburu karena putraku memiliki kedekatan khusus dengan orang lain, tetapi juga haru karena seseorang tersebut telah menyayangi putraku dengan tulus.

Mas Arya menghampiri Adib dan menggendongnya. “Nanti kita main ke rumah Mbak Tuti ya,” hibur suamiku tenang. “Mbak, nanti kasih kabar ya kalau udah deket hari pernikahannya. InsyaAllah kita mau datang,” tambahku sambil tersenyum.

“Iya Bu. Saya pasti senang sekali kalau pada bisa datang ke nikahan saya.” Jawab Mbak Tuti, lalu mengangguk dan membalas senyumku. “Kalau begitu saya pamit dulu, terimakasih sudah mengantar. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawabku dan Mas Arya berbarengan. “Hati-hati ya, Mbak.” tambahku. Aku kembali tersenyum dan mengajak Adib untuk melambai. Mbak Tuti membalas lambaian tangan kami dan berlalu masuk ke gerbong kereta.

bersambung…

oleh: An Nisaa Gettar