Itulah suku Aus dan Khazraj yang sedang berbincang-bincang di lembah-lembah mereka. Setelah seratus dua puluh tahun mereka berperang dan saling bermusuhan antara satu sama lain. Kini mereka telah ditaklukkan oleh Islam. Jiwa mereka telah dipersatukan oleh panggilan dakwah, sehingga mereka hidup bersaudara berkat nikmat Allah Ta’ala yang diberika kepada mereka.

Hati mereka telah menyatu karena tujuan mereka satu, maka hilanglah rasa tamak dari jiwa mereka, padamlah sifat egois mereka, padam pula rasa dendam, dengki dan permusuhan. Dan mereka berdamai bersatu padu di bawah panji-panji Ilahi sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk menjerumuskan mereka.

Sungguh, terhadap hamba-hamba Ku tidak mungkin kamu (setan) dapat menguasainya. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung mereka.”(QS Al-Isra'[17] : 65)




Namun setan-setan yang berwujud manusia ternyata lebih kuat kemauannya, lebih pandai mencari sasaran, lebih jitu usahanya menyalakan api permusuhan dan pertentangan. Orang-orang Yahudi bersungut-sungut karena geram terhadap hamba-hamba Allah Swt yang berkasih-kasihan itu. Maka diusahakannyalah untuk memecah belah persatuan mereka.

Dibangkitkannya rasa dengki dan iri hati dalam hati mereka terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada saudaranya itu, dan di penuhinya hati mereka dengan kemarahan dan kebencian. Siapakah gerangan yang membangkit-bangkitkan dendam lama itu? Siapakah gerangan yang menghidup-hidupkan kembali kejahiliyahan? Siapakah gerangan yang memecah belah kalimat mereka setelah mereka bersatu padu?

Seorang pendeta Yahudi, bernama Syas bin Qais, yang sangat benci terhadap Islam dan berkeinginan keras untuk memurtadkan kaum muslimin dari agamanya. Dialah yang selalu menghembus-hembuskan api permusuhan. Dengan senyum yang dibuat-buat ia mendatangi mereka untuk saling berbicara bersama. Lalu diingatkannya kepada mereka mengenai peristiwa-peristiwa berdarah yang pernah dialami tempo dulu.

Pendeta itu pun tak lupa selalu menyebutkan kelebihan dan popularitas nenek moyangnya yang kini telah hilang, sehingga bangkitlah kemarahan mereka. Dendam lama kembali mencuat, masing-masing kelompok pun meneriakkan kabilahnya, masing-masing golongan meminta bantuan kepada anggotanya, dan mereka teriakkan seru-seruan Jahiliyah : “Wahai keluarga si Fulan, wahai keluarga si Polan..!” Masing-masing suku berhimpun dengan kaumnya, masing-masing menghunus pedang, suasana makin panas dan akhirnya pertentangan pun memuncak.

Namun, ada sebagian orang yang cinta damai dan persaudaraan buru-buru datang dan menghadap Rasulullah saw sambil berseru, “Wahai Rasulullah, orang-orang sudah silang sengketa..!”

Betapa terkejutnya Rasulullah saw saat mendengar kabar itu, kemudian beliau dengan cepat mendatangi mereka sambil menyeret selendangnya. Demi melihat Rasulullah saw pembawa rahmat ini, mereka sadar dari kelalaian mereka yang membanggakan ‘ashabiyah (fanatisme golongan). Maka padamlah kesombongan jahiliyah disiram api keimanan. Rasulullah saw memandang mereka dengan penuh kasih sayang, lalu beliau menyampaikan perkataan kepada mereka :

Apakah pantas kalian berbuat demikian padahal saya ada di tengah-tengah kalian? Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku nanti, yaitu sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)

bersambung…

oleh : Syaikh Hasan Al-Banna