Saudaraku…

Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, mengatakan ada dua sebab mengapa para sahabat baginda Rasul lebih utama dan unggul dibandingkan kaum Muslimin yang lainnya.Pertama, kebersihan hati mereka yang jauh dari ragam keraguan, yang berarti mereka memiliki kekuatan iman yang tinggi. Kedua, pengorbanan mereka dalam hal jihad dan kesungguhan.

Kedua keadaan ini memang pantas disandingkan untuk para sahabat yang mulia. Itu sebabnya Rasulullah saw pernah menyampaikan perkataan, “Sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya, kemudian zaman setelahnya dan seterusnya.” Generasi sahabat ra, dilanjutkan dengan generasi tabi’in dan generasi tabiin tabi’in dan seterusnya. Itulah siklus masa kondisi kaum Muslimin yang sangat indah.




Mereka, bukan manusia yang tak punya keinginan dunia. Bukan manusia yang tak mempunyai hawa nafsu. Mereka adalah manusia yang memiliki hasrat, ambisi dan keinginan. Sama seperti kita. Hal itu diakui olleh Umar bin Abdul Aziz ra, Khalifah bani Umayah yang terkenal shalih dan sebagian orang menyebutnya sebagai khalifah rasyidin ke lima (setelah Ali).

“Jiwaku,” kata Umar, “Memiliki sifat yang tidak pernah puas. Jika aku memperoleh sesuatu maka aku ingin sesuatu yang lebih baik lagi darinya. Ketika jiwaku mendapat khilafah dan tidak ada lagi kedudukan yang lebih tinggi dari khilafah, jiwaku menginginkan akhirat.”

Saudaraku,,

Hidup di dunia ini memang sarat dengan ambisi dan keinginan keduniaan. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta benda, ingin mendapat kedudukan tinggi dan dihormati karena kedudukan, ingin ada jaminan hidup yang pasti bahkan setelah kehidupan sudah bukan milik kita lagi. Aneh sebenarnya.

Tapi mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang. Mungkin termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi keduniaan itu agar tidak berlebihan dan merusak.

Di zaman Dinasti Umayah, ada salah seorang gubernur yang sangat berkuasa, Hisyam bin Abdul Malik namanya. Suatu ketika ia menunaikan haji di Baitullah dan bertemu seorang ulama hadits, Salim bin Abdullah bin Umar. Hisyam mendekati Salim dan berkata, “Wahai Salim, mintalah kepadaku apa keperluanmu.” Salim mengatakan, “Demi Allah saya sangat malu untuk meminta selain kepada-Nya dirumah-Nya ini.

Kemudian ia keluar dari wilayah Ka’bah dan ternyata ia diikuti oleh Hisyam bin Abdul Malik yang penasaran dengan penolakannya itu. “Sekarang engkau sudah keluar dari Baitullah, mintalah padaku apa yang kau perlukan,” tanya Hisyam.

Salim berhenti. Ia menoleh ke arah Hisyam lalu berkata, “Apa yang perlu kuminta padamu, kebutuhan dunia atau kebutuhan akhirat?” Hisyam menjawab, “Tentu saja kebutuhan dunia.” Salim berkata, “Sesungguhnya aku tidak meminta kebutuhan dunia pada Yang Memiliki dunia. Bagaimana aku meminta dunia kepada yang tidak memiliki dunia?

Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan keluhuran hati Salim bin Abdullah bin Umar ra.

bersambung…

 

sumber: majalah Tarbawi