Aku mulai keteteran. Sekarang aku benar-benar merasa statusku lengkap. Sebagai ibu untuk putraku, istri untuk suamiku, dan wanita karir untuk pekerjaanku. Seharusnya aku merasa bahagia. Tapi yang kurasakan adalah sebaliknya. Bagaimana tidak? Di luar kegiatanku bekerja di luar rumah, aku harus mengurus seluruh tetek bengek di rumah. Setiap pagi aku harus membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan sebelum berangkat kerja. Tentu aku juga harus mengurus Adib untuk bersiap ke sekolah. Siangnya aku harus menjemput karena sekolah Adib yang memang searah dengan kantorku dan berlawanan arah dengan kantor Mas Arya. Setelah itu aku harus kembali ke kantor dengan Adib bersamaku. Bersyukur pihak kantor mengizinkan Adib ikut bersamaku. Malamnya, tentu saja aku harus menyiapkan makan malam, menemani Adib belajar, mempersiapkan keperluan untuk Mas Arya bekerja besok, hingga menemani Adib tidur. Selain itu, aku pun kadang masih harus mengerjakan tugas-tugas kantorku sebelum tidur.

[baca sebelumnya: Untuk Putriku Fatimah (Bag 1)]

Untunglah aku memiliki Mas Arya yang sangat pengertian. Terkadang ia membantuku melakukan pekerjaan rumah di samping menemani Adib pastinya. Tapi aku tahu dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dan aku sangat tahu dia sudah cukup lelah jika sudah di rumah. Di samping bekerja, ia juga sedang melanjutkan kuliah S2. Sudah pasti dia juga disibukkan oleh tugas kuliah. Hal itu membuatku tak tega untuk memintanya membantuku melakukan pekerjaan rumah. Dia meluangkan waktu untuk menemani Adib saja aku sudah sangat senang.

Mencari asisten baru? Itu belum terpikir olehku. Sulit untuk menemukan seseorang yang benar-benar jujur dan dapat dipercaya di kota besar seperti Jakarta. Banyaknya tindak kriminal yang semakin beragam jenisnya membuatku khawatir akan hal itu. Dan Mas Arya menerima alasanku itu, meskipun dia mengatakan, “Tapi tenaga kamu jadi terforsir, Fat. Kamu belum terbiasa melakukannya. Kalau kamu sudah memutuskan untuk mencari asisten baru, aku usahakan dapat orang yang baik.”




***

Akhir-akhir ini kelelahanku sedang memuncak. Benar kata Mas Arya, aku tidak terbiasa melakukan itu semua sehingga lelah teramat sangat pun tak dapat kuhindari. Tapi aku selalu berpikir, mungkin hanya belum terbiasa. Nanti kalau sudah terbiasa pasti aku akan baik-baik saja.

Namun sekarang aku belum baik-baik saja. Setiap malam badanku seringkali terasa pegal di bagian bahu dan pinggang. Tentu karena aku banyak melakukan aktivitas dengan tanganku serta menghabiskan banyak waktu untuk duduk di meja kerja dan menyetir mobil ke sana kemari. Kepalaku juga terkadang pusing. Sebenarnya ingin sekali aku meminta Mas Arya untuk memijatnya, tapi lagi-lagi aku tak tega. Dia sendiri lelah dengan pekerjaan dan kuliahnya.

Seperti malam itu, aku merasakan badanku sangat sakit hampir di semua bagian. Pegal tak karuan. Pusing juga tak lepas dari kepalaku. Untunglah Adib sudah terlelap. Meskipun sebelumnya ia sangat rewel dan menangis meminta aku menggendongnya. Sambil menggendongnya, tadi aku pun harus membersihkan dapur yang sudah tiga hari tak kubersihkan.

Aku  baru saja selesai shalat Isya. Tidak berjamaah karena Mas Arya sudah shalat sejak tadi. Setelah sejenak berdzikir dan memanjatkan doa-doaku, aku segera beranjak untuk istirahat. Pukul sebelas malam. Aku baru saja merebahkan badanku dan merasakan sedikit kenyamanan. Dan aku hampir tertidur ketika Mas Arya masuk kamar dan menghampiriku.

“Fat, bisa bikinkan aku makan malam? Hangatkan saja sup yang tadi dan gorengkan telur untuk temannya. Banyak tugas membuatku lapar lagi. Oh iya, buatkan juga kopi, aku berencana lembur malam ini.” Nada bicaranya lembut. Sebelum kembali ke ruang kerjanya, ia sempat mengecup keningku.

Aku membuka kedua mataku dengan cukup berat. Aku sudah sangat mengantuk. Tapi kupaksakan untuk membukanya. Aku bangun dari tempat tidurku dan sempat meringis merasakan badanku yang sakit dan kepala yang semakin pusing. Dengan berusaha menahan agar tidak mendesah lelah, aku pun terseok melangkah pergi ke dapur.

bersambung...

oleh: An Nisaa Gettar