Jika mengawali sesuatu dengan nama Allah beserta apa yang terkandung di dalamnya yaitu tauhid kepada Allah dan adab terhadap-Nya, adalah prinsip pertama dalam tashawwur Islami, maka terhimpunnya seluruh makna rahmat, berbagai kondisi dan aspeknya di dalam dua sifat ‘Ar Rahman’ dan ‘Ar Rahim’ yang merupakan prinsip kedua dalam tashawwur ini di samping menegaskan hakikat hubungan antara Allah dan hamba-Nya.

Setelah mengawali dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, menyusul pengutaraan segala puji kepada Allah dan penyebutan-Nya dengan sifat rububiyah yang mutlak bagi alam semesta: Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Alhamdulillah merupakan perasaan yang terlimpah ke dalam hati seorang mukmin setiap kali ia mengingat Allah. Karena keberadaannya sejak awal tidak lain dan tidak bukan hanyalah salah satu curahan dan limpahan rahmat Ilahiyah yang harus penyampaian puja dan puji. Dalam setiap langkah dan setiap waktu, nikmat-nikmat Allah selalu hadir silih berganti, terhimpun, dan melimpah ruah di seluruh makhluk-Nya, terutama manusia. Karena itu, ‘segala puji bagi Allah’ sebagai permulaan dan ‘segala puji bagi Allah’ sebagai penutup adalah salah satu kaidah tashawwur Islami secara langsung.

“Dialah Allah, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya segala puji di permulaan dan di akhir…” (Al Qashash [28]: 70)




Meskipun demikian, karunia dan limpahan rahmat Allah kepada hamba-Nya yang beriman hingga pada tingkat–jika hamba mengatakan: segala puji bagi Allah–maka Allah menandainya sebagai kebaikan yang mengalahkan semua timbangan. Disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah bahwa dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hadits kepada mereka bahwa salah seorang di antara hamba Allah mengucapkan, “Wahai Rabbi, bagi-Mu segala puji sebagaimana layaknya bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”

Ucapan ini lalu menyulitkan dua malaikat, karena tidak tahu bagaimana mencatat hal tersebut. Mereka kemudian naik menemui Allah sambil berkata, “Wahai Rabb kami, sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu ucapan yang tidak kami ketahui bagaimana mencatatnya.” Allah bertanya–Dia lebih mengetahui tentang apa yang diucapkan hamba-Nya: “Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Kedua malaikat menjawab: “Wahai Rabb, sesungguhnya dia mengucapkan, ‘Bagi-Mu segala puji wahai Rabb sebagaimana layaknya bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu’. Allah berfirman kepada kedua malaikat itu: “Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku hingga dia menemui-Ku lalu Aku pasti membalasi ucapannya.” (HR. Ibnu Majah & Thabrani, derajat hadits dhaif)

Penghaturan pujian kepada Allah mencerminkan perasaan seorang mukmin yang tengah memperoleh curahan karena hanya mengingat Allah, sebagaimana telah kami sebutkan. Sedangkan penggalan kedua ayat tersebut: ‘Rabbil ‘alamin’ memperlihatkan kaidah tashawwur Islami, karena rububiyah yang mutlak dan meliputi hal tersebut adalah salah satu pokok aqidah Islam. Rabb berarti Pemilik yang bebas bertindak sesuai keinginan. Dalam bahasa Arab berarti pula tuan dan orang yang punya kebebasan bertindak untuk memperbaiki dan membina (tarbiyah).

Kebebasan bertindak dalam memperbaiki dan membina semua makhluk, sementara Allah tidak menciptakan alam semesta kemudian membiarkannya begitu saja. Namun, Dia bertindak terhadapnya dengan memperbaiki, memelihara, dan membinanya. Seluruh alam dan makhluk terawat dan terjaga oleh pemeliharaan Allah, Rabb semesta alam. Sementara hubungan antara Pencipta dan seluruh makhluk senantiasa ada dan terus berlangsung di setiap waktu dan keadaan.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)