…adapun amalan yang paling dicintai Allah Swt adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya….” (HR. Thabrani dan Abi Dunya)

Dalam buku ‘200 Amalan Berpahala Dahsyat’ yang ditulis oleh Abdillah F Hasan, dituliskan bahwa media massa pernah memberitakan seorang anak yang nyaris putus sekolah karena tidak mampu membayar sekolahnya. Kondisi keuangan keluarga yang jauh dari kata mampu, membuat sang anak tersebut mau tidak mau harus menyelesaikan sekolahnya sebelum waktunya.

Ayah dari anak tersebut hanyalah seorang buruh bangunan dan ibunya hanya seorang pedagang jajanan goreng. Pendapatan kedua orangtua tersebut tidak mencukupi apalagi ditambah membayar SPP sekolah anak semakin mencekik kehidupan mereka. Mencari uang puluhan ribu saja sangat sulit, apalagi sampai ratusan ribu untuk membayar sekolah.




Kasus semacam ini banyak terjadi, terutama di kalangan bawah. Andai ia tetangga atau teman kita apa yang akan kita lakukan? Apakah diam seribu bahasa atau membantu meringankan bebannya?

Sayangnya, kita sering menyaksikan orang yang hidup hanya untuk kenikmatan pribadinya. Yang kaya tidak peduli dengan yang miskin meskipun punya potensi membantu. Kesenjangan seperti inilah yang lambat laun akan menimbulkan gesekan yang lebih dahsyat.

Islam, menganjurkan kita untuk menjadi pribadi yang penolong, bukan individualistis. Jika kita punya kelebihan materi, sebenarnya tidaklah berat mengeluarkan beberapa puluh ribu rupiah untuk menolong teman yang tidak bisa membayar uang sekolah.

Uang lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu sebenarnya sedikit jika kita terbiasa membeli pulsa sampai puluhan ribu rupiah dalam sebulan,misalnya. Jika kita mampu berlangganan TV kabel, misalnya. Mengapa kita tak mampu atau merasa berat, untuk menyisihkan beberapa lembar ribuan saja uang yang kita miliki untuk orang lain yang membutuhkan?

Sekali lagi, Islam menganjurkan kita untuk menjadi pribadi penolong, bukan individualistis. Jika kita bantuan dari kita, kita rasa kurang cukup untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, kita bisa menggalang bantuan. Kita bisa menggalang bantuan dari teman-teman yang memiliki kemampuan lebih secara materi. Dan para penerima bantuan pun pastilah bahagia jika ada pihak lain yang bersedia membuka mata untuk memberi bantuan. Seperti kisah yang diatas tadi, anaknya bisa kembali bersekolah dan mencari ilmu setelah mendapat bantuan, dan harapan menjadikan anaknya sebagai generasi yang berguna bagi bangsa dan negara bukan hanya mimpi belaka.

Menolong sesama muslim atau orang-orang yang memang sedang membutuhkan, tidak hanya sekedar menolong. Namun, terselip rasa bahagia dan gembira yang kadang tak mampu diungkapkan, baik itu dari si pemberi maupun dari si penerima bantuan. Menggembirakan orang lain adalah amal saleh yang bernilai mulia di Allah Swt. Pahalanya pun bahkan lebih utama daripada iktikaf sebulan penuh.

Dari Ibnu Umar ra, ada seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling dicintai Allah? Dan apakah amalan yang paling dicintai Allah?” Rasulullah saw menjawab, “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling memberi manfaat kepada sesama manusia. Adapun amalan yang paling dicintai Allah adalah engkau menggembirakan hati seorang muslim atau engkau menghilangkan sebuah kesulitan hidupnya, atau engkau melunaskan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Sungguh, berjalan untuk memenuhi kebutuhan seorang saudara muslim lebih aku senangi daripada beriktikaf di Masjid Madinah ini (Masjid Nabawi) selama satu bulan penuh.” (HR.Thabrani dan Abi Dunya)

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee