Namun, ada sebagian orang yang cinta damai dan persaudaraan buru-buru datang dan menghadap Rasulullah saw sambil berseru, “Wahai Rasulullah, orang-orang sudah silang sengketa..!”

Betapa terkejutnya Rasulullah saw saat mendengar kabar itu, kemudian beliau dengan cepat mendatangi mereka sambil menyeret selendangnya. Demi melihat Rasulullah saw pembawa rahmat ini, mereka sadar dari kelalaian mereka yang membanggakan ‘ashabiyah (fanatisme golongan). Maka padamlah kesombongan jahiliyah disiram api keimanan. Rasulullah saw memandang mereka dengan penuh kasih sayang, lalu beliau menyampaikan perkataan kepada mereka :

Apakah pantas kalian berbuat demikian padahal saya ada di tengah-tengah kalian? Janganlah kalian kembali kafir sepeninggalku nanti, yaitu sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad)




[baca sebelumnya: Persatuan Islam Sebagai Tolak Ukur Keimanan (bag. 1)]

Mendengar perkataan Rasulullah saw ini dengan spontan mereka bersalaman dan saling merangkul satu sama lain. Dan bekas-bekas fitnah tadi mereka cuci dengan air mata penyesalan dan taubat. Lalu Allah swt menurunkan ayat dalam Al-Quran yang artinya,

Barangsiapa teguh berpegang pada Allah, Ia ditunjukkan ke jalan yang lempang. Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan taqwa yang sesungguhnya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Islam. Dan berpegang teguhlah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu tercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada mu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran[3] : 100-103)

Yang menjadi pertimbangan dan renungan dalam ayat ini untuk kita sebagai kaum muslimin, bahwa iman identik dengan persatuan, sedangkan perpecahan dan pertentangan identik dengan kekafiran. Maka terhadap orang-orang mukmin yang bermusuhan, Allah Swt menyebut permusuhan mereka ini sebagai kekufuran. Firman-Nya :

Mereka menjadikan kamu kembali kafir sesudah beriman.”

Maksudnya, berpecah belah sesudah kamu bersatu. Dan maksud dari ayat diatas adalah : “Wa kaifa takfuruuna” (Bagaimana kamu menjadi kafir) ialah : Bagaimana kamu bisa berpecah belah…?

Dan kita perlu merenungkan sabda Rasulullah Saw yang mempunyai arti :

Janganlah kamu kembali menjadi kafir sepeninggalku nanti, yaitu sebagian kamu memenggal leher sebagian yang lain (bermusuhan).”

Dan kita juga perlu untuk merenungkan firman Allah swt sebagai timbangan dan tolak ukur : “Sesunggguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49] : 10)

Perhatikanlah pula sabda Rasulullah saw sebagai berikut :

Engkau lihat orang-orang mukmin di dalam bercinta-cintaan, bertolong-tolongan, dan berkasih sayang adalah bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggotanya ada yang sakit maka seluruh tubuhnya merasa sakit, tak dapat tidur dan demam.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

 

oleh : Syaikh Hasan Al-Banna