Saudaraku,,

Hidup di dunia ini memang sarat dengan ambisi dan keinginan keduniaan. Ingin hidup lebih baik, ingin memperoleh harta benda, ingin mendapat kedudukan tinggi dan dihormati karena kedudukan, ingin ada jaminan hidup yang pasti bahkan setelah kehidupan sudah bukan milik kita lagi. Aneh sebenarnya.

[baca sebelumnya : Seburuk-buruknya Penyesalan (bag. 1)]




Tapi mau tidak mau, itulah kenyataan ambisi keduniaan yang ada dalam benak banyak orang. Mungkin termasuk kita. Hanya keimanan yang mampu mengekang dan mengontrol ambisi keduniaan itu agar tidak berlebihan dan merusak.

Saudaraku,,

Tahanlah segala ambisi keduniaan itu. Kekang ia agar tetap ada dalam batas-batas tertentu. Tinggalkan keinginan keinginan yang berlebihan. Cukuplah ia dengan berbagai amal shalih yang akan memberi ketenangan dan kepuasan batin.

Ingatlah, segala yang berlebihan, pasti membawa keburukan. Seorang ahli hikmah pernah mengungkapkan, “Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam bicara, ia akan memperoleh hikmah. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam pandangan, ia akan memperoleh kekhusyu’an. Barangsiapa yang meninggalkan berlebihan dalam makanan, maka dia akan diberi kelezatan ibadah. Barangsiapa yang meninggalkan kelebihan tertawa, ia akan memperoleh kewibawaan. Barangsiapa yang meninggalkan cinta dunia, ia akan mendapatkan cinta akhirat. Dan barangsiapa yang meninggalkan sibuk oleh aib orang lain, maka ia akan memperoleh kesibukan memperbaiki aibnya sendiri.”

Kita di sini, bukan hanya menghadapi badai laut, hutan belantara, atau angin topan. Semakin lama kita melangkah di jalan ini, maka ancaman keimanan yang kita rasakan akan semakin berat dan keras. Ancaman yang bukan hanya merupakan taruhan hidup dan mati, tapi soal surga atau neraka.

Seseorang pernah berkata pada Ali bin Abi Thalib, “Ceritakan padaku kewajiban yang paling wajib, keanehan yang paling aneh, kesulitan yang paling sulit dan kedekatan yang paling dekat.”

Ali berkata, “Taubat itu wajib bagi seseorang. Tapi lebih wajib lagi baginya untuk meninggalkan dosa. Perjalanan waktu ini sangat mengherankan, tapi lebih mengherankan lagi kelalaian manusia terhadap waktu. Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit tapi hilangnya kesabaran itu lebih sulit lagi. Semua yang bisa dicapai itu dekat, tapi kematian lebih dekat dari semuanya.

Saudaraku..

Sudah terlampau lama kita bermain-main dan merenggangkan pegangan tangan pada hidayah Allah Swt. Mari kuatkan kembali pegangan itu. Syafiq bin Ibrahim pernah mengatakan, “Pintu taufik (bantuan Allah) akan tertutup dari makhluk dalam enam keadaan. Kesibukan mereka dengan nikmat daripada mensyukurinya. Keinginan untuk menuntut ilmu dan meninggalkan pengalamannya. Bersegera melakukan dosa dan menunda-nunda taubat. Bangga berteman dengan orang shalih tanpa mencontoh apa yang mereka lakukan. Dunia akan mereka tinggalkan, tapi mereka mengejar dunia. Akhirat pasti akan mereka datangi, tapi mereka justru berpaling dari akhirat.”

Saudaraku..

Seburuk-buruk buta adalah buta hati. Seburuk-buruk kesesatan adalah kesesatan setelah menerima petunjuk. Seburuk-buruk permintaan maaf adalah ketika meminta maaf menjelang mati. Seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di hari kiamat.

 

sumber: majalah Tarbawi