Ada apa denganku? Aku tidak bisa menahan bulir air pertama dari mataku keluar. Aku pun merasakan bulir-bulir lainnya ingin menyusul. Tapi kali ini aku menahannya. Aku tidak mau menangis. Dan aku tidak ingin Mas Arya cemas. Apalagi sampai mengira kalau aku menangis karenannya. Tentu saja bukan. Aku memang hampir menangis. Tapi ini bukan karena dia. Aku hampir menangis karena aku tengah menahan. Aku tidak mau menangis karena itu aku menahan. Namun dengan menahan aku juga hampir menangis. Ini adalah dua hal yang tidak bisa ditentukan mana yang sebab dan mana yang akibat.

[baca sebelumnya: Untuk Putriku Fatimah (Bag 2)]

Ya, aku menahan. Aku menahan perasaanku yang begitu lelah dan mencoba selalu bersabar. Aku menahan perasaanku yang selalu mendorong bahwa aku harus jadi istri yang baik untuk suamiku. Ibu yang handal untuk putraku. Dan wanita yang loyal untuk pekerjaanku. Aku menahan perasaanku yang selalu mengatakan bahwa aku harus menjadi seseorang yang tangguh untuk menghadapi peran-peranku. Aku tengah berusaha menahan semuanya. Dan yang sungguh-sungguh ingin membuatku menangis adalah karena aku belum melakukan semua itu dengan  ikhlas. Oh Allah… aku sungguh lemah. Dan aku benar-benar mohon ampunan-Mu.

Pukul tiga pagi. Aku baru saja melakukan tahajud. Kusampaikan semua keluh kesahku pada Rabb-ku. Kupanjatkan doa-doa untuk Mas Arya dan Adib. Dan kupanjatkan doa untukku, agar aku bisa menjadi yang terbaik untuk mereka. Bermunajat pada-Nya membuat perasaanku jauh lebih tenang, meskipun perasaan sesak itu masih ada. Satu hal yang ingin kulakukan saat ini adalah pulang ke rumah dan bertemu Ayah. Ya, sosok itu tiba-tiba sangat kurindukan.




Mas, aku pulang ke Bandung. Ingin bertemu dengan Ayah. Maaf kalau tidak pamit. Aku baik-baik saja dan akan segera pulang. Mas, jangan khawatir. Oke?

Aku meletakkan kertas berisi pesan tersebut di atas meja sebelah tempat tidur. Di sebelahnya kuletakkan weker untuk membangunkannya shalat Subuh. Kulihat Mas Arya tengah pulas sambil memeluk Adib. Ia tidur di kamar Adib baru pukul dua tadi. Kukecup kening mereka satu per satu sebelum pergi.

***

Aku telah memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku di Bandung. Hari Minggu, aku yakin Mas Arya akan di rumah sehingga bisa menemani Adib. Sebelum Subuh tadi aku langsung berangkat ke Bandung dengan mobilku. Dan malam ini, aku sudah bersama ayahku.

Aku duduk merapat di sebelah Ayah. Kugandeng tangannya dan kusandarkan kepalaku di bahunya. Semilir angin malam menerpa pelan wajahku. Ia mengubah sedikit posisi duduknya sehingga membuat tubuhku semakin nyaman di dekatnya. Tak ada perbincangan di antara kami. Pikiranku melayang ke masa-masa beberapa tahun silam. Masa di mana aku masih menjadi gadis kecilnya. Seringkali aku dan ayahku menghabiskan malam di teras ini. Biasanya kami saling bercerita. Ayah menceritakan pengalaman atau hal-hal lain, sedangkan aku akan bercerita tentang kejadian yang kualami pada hari itu. Jika sedang bersedih dan menangis, aku akan bisa tenang dengan hanya duduk berdua seperti ini. Dekat dengan sosok yang sangat kusayangi itu membuatku merasa begitu nyaman. Dan sekarang aku pun masih bisa merasakannya.

“Kamu harus bersyukur diberi kesempatan untuk menjadi wanita yang benar-benar wanita. Membina rumah tangga, mengurus suami, mendidik anak, bahkan bekerja membantu suami.” Suara lembut Ayah mengalir lembut di telingaku. “Lelah, kesal, dan marah adalah hal yang wajar. Manusiawi. Tetapi tidak boleh berlarut-larut. Mungkin Allah sedang menguji kesabaranmu, Nak. Dan itu tandanya Allah sayang.”

Aku menghela napasku perlahan. Hatiku membenarkan tutur katanya. Namun emosiku masih menentang kalimat tersebut. Bahkan pikiranku melantur. Aku mengingat saat-saat menyenangkan ketika lajang dulu. Bebas dan tak terbebani apapun. Aku hanya mengurus diriku sendiri. Tapi sekarang?

Aku menarik napasku panjang.

bersambung…

oleh: An Nisaa Gettar

Baca juga:

Untuk Putriku Fatimah (Bag 1)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 2)