Sesungguhnya Islam yang kita peluk kini, adalah Islamnya para Nabi dan Rasul. Islam yang diwasiatkan Ibrahim, Yakub, Ismail, dan Ishaq, kepada anak cucu mereka. Agama Islam adalah agama yang dipilih oleh Allah swt bagi mereka. Pada hakikatnya Islamlah agama semua utusan Allah. Sabda baginda Rasul Saw yang diriwayatkan dari Abu Hurairah :

Kami sekalian nabi-nabi adalah saudara sebapak, agama kami adalah satu.”  (HR. Bukhari)

[baca sebelumnya: Wasiat Nabi Kepada Anaknya (bag. 1)]




Islam sebagai agama para nabi dan rasul telah diamini oleh para ulama. Ini berdasarkan firman Allah Swt, “Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih.” (QS.Yunus : 19) Dalam tafsirnya, Syaikh Muhammad Ali As Shobuni menulis bahwa pada mulanya manusia itu beragama satu sejak zaman Adam sampai Nuh as, yaitu Islam.

Lalu mereka berselisih hingga terpecah menjadi banyak kelompok dan golongan. Ibnu Abbas berkata, “Selisih antara Adam dan Nuh ialah 10 abad, semuanya beragama Islam.” Lihat At-Tafsir Al-Wadih Al-Muyassar ayat 509. Jadi barang siapa yang mengklaim bahwa agama para nabi berbeda-beda adalah klaim yang mengada-ada.

Agama Anak adalah Tanggungjawab Orangtua

Ibnu Qayyim berkata, “Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada anak tentang orangtuanya. Barangsiapa mengabaikan pendidikan anak dan menelantarkannya maka ia telah melakukan puncak keburukan. Kebanyakan kerusakan pada anak diakibatkan oleh orangtua yang mengabaikan mereka dan tidak mengajari mereka kewajiban agama dan Sunnah.”

Mendidik anak dengan baik wajib hukumnya. Menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan kepada sekolah, lalu orangtua di rumah tidak mengambil peran yang signifikan, tentu tidak dapat dibenarkan. Waktu belajar anak di sekolah tidak seberapa dibandingkan waktu yang ada di luar sekolah. Di sinilah peran orangtua. Diharapkan para orangtua tidak lepas kontrol terhadap anaknya. Pergaulannya patut dipantau. Tidak bisa dilepas begitu saja.

Ironisnya sebagian orangtua tidak menghiraukan bagaimana seharusnya berwasiat pada anak-anaknya. Atas dalih tidak mau mengekang hak anak, mereka diberi kebebasan menjalankan apapun yang diyakininya. Atas nama demokrasi, anak-anak dibiarkan memilih jalan hidupnya. Orangtua hanya sekedar memberi saran saja. Hasilnya, apapun bisa ditoleransi dalam keluarga demokrasi seperti itu. Bahkan dalam urusan memilih agama sekalipun, tak jadi masalah.

Sesungguhnya anak-anak tumbuh berkembang sesuai dengan kebiasaan ayahnya (orangtua). Demikianlah seorang ayah dalam bersikap. Perhatian ayah seharusnya tidak pada masalah duniawi semata. Sebab, agama dan keyakinan anak jauh lebih penting. Bila ayah bekerja semata-mata agar anak istrinya bisa makan, sungguh tidak beda dengan hewan ternak. Ayah yang muslim harus memiliki orientasi yang berbeda dengan ayah-ayah lainnya. Seorang ayah yang muslim harus intens mendidik anak-anak mereka dalam mengenal Allah Swt, Rasul-Nya, dan agamanya.

Anak muda tidaklah beragama berdasarkan otaknya. Orang terdekatlah yang membentuk cara beragamanya. Bila anak sejak dini miskin nilai agama, ketika dewasa ia akan beragama dengan pengetahuan terbatas. Oleh karena itu, penting bagi orangtua mendidik anak-anak mereka dengan nilai-nilai Islami. Kelak itulah yang akan menjadi bekal baginya mengarungi kehidupan ini.

Wallahu’alam bish shawab.

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber : buku saku Mimbar Jumat karya Nurlaila Wahidah Izzi dan Buya H.M Alfis Chaniago)