Itulah hujjah Kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk melawan kaumnya. Kami naikkan beberapa derajat siapa yang Kami kehendaki. Sungguh, Tuhanmu Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am[6] : 83)

Nabi Ibrahim as datang ke tengah-tengah masyarakat untuk menyeru mereka ke jalan Allah Swt dan menegakkan fondasi agama yang lurus dan mudah.

Pada waktu itu umumnya manusia sebagai penyembah bintang, berhala, manusia atau batu. Mereka tidak mengerti rahasia hidup ini, tidak tahu apa yang seharusnya mereka perbuat dalam kehidupan ini, dan tidak tahu pula jalan menuju kepada Allah Swt.




Ibrahim datang dengan seruan yang baru, ia diutus oleh Allah Swt untuk membangun fondasi masyarakat yang baru dan membawa seperangkat perangkat peraturan baru yang bertumpu pada tauhid dan ketuhanan. Dalam menjalankan tugas yang demikian itu Nabi Ibrahim hanya sendirian saja, sedangkan orang lain bahkan ayahnya sendiri menentang keras kepada beliau. Dengarlah bagaimana Nabi Ibrahim mengajak ayahnya untuk ikut ke dalam ajarannya.

Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan.  (QS. Maryam[19] : 43-45)

Semua orang menentang dan mengingkari Nabi Ibrahim, sampai ayahnya sendiri pun bersikap demikian. Namun, Nabi Ibrahim tetap tenang, tidak bergoncang dan tidak bergeming menghadapi keingkaran mereka. Hujjah atau argumentasi Nabi Ibrahim kuat dan tegas, juga keterangannya jelas.

Memang Allah Swt telah memberinya argumentasi yang kuat dan telah memberinya bimbingan dan tuntunan, sehingga argumentasi dan keterangannya itu sendiri merupakan kekuatan baginya. Perhatikanlah bagaimana ia berdebat dengan Namrudz yang mendakwakan dirinya sebagai Tuhan yang akhirnya tampak dengan jelas kelemahan Namrudz dan terbukti pula bahwa dia hanya manusia biasa.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.”Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah[2] : 258)

Perhatikan juga bagaimana Nabi Ibrahim menggunakan argumentasinya untuk mematahkan kepercayaan kaumnya yang menyembah matahari, bulan dan bintang. Ia menunjukkan dan menyadarkan kaumnya tersebut bahwa bintang itu bisa hilang, rembulan dapat sirna, dan matahari bisa lenyap.

bersambung…

 

Oleh : Syaikh Hasan Al-Banna