Sebuah ujian adalah takdir, sekaligus tradisi. Takdir, karena manusia diciptakan memang untuk diuji. Manusia ada dalam kuasa Allah swt. Manusia diciptakan oleh Allah Swt, lalu sesudah itu Allah swt memberi kita ujian demi ujian. Cobaan demi cobaan. Fitnah demi fitnah.

Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk[67] : 1-2)

Tradisi, karena hubungan sosial antara manusia dengan lainnya akan melahirkan begitu banyak ujian, cobaan dan juga fitnah. Maka ujian adalah keniscayaan hidup. Maka fitnah dan cobaan adalah keniscayaan kemanusiaan.




Seperti sekarang ini, yang merupakan zaman penuh ujian. Dalam arti yang seluas-luasnya. Meski ujian, sekali lagi hanyalah keniscayaan hidup. Namun, tak ada hidup tanpa ujian. Kematian, kekeringan, kekurangan pangan, juga kekacauan yang terjadi di mana-mana. Wajah kehidupan yang carut marut dan tak lagi berbentuk adalah ujian.

Maka, dalam kacamata Islam, ujian bahkan keniscayaan Ketuhanan. Ya, artinya diantara kekuasaan Allah swt adalah kehendak-Nya untuk menguji manusia. Allah swt pasti menguji manusia. Dalam pengertian kemanusiaan, maupun dalam pengertian sebagai muslim.

Segala kekacauan, dari sudut tertentu harus di pandang sebagai ujian. Meski ujian itu sendiri bisa sekaligus merupakan cobaan dan bencana. Dalam penjelasan yang berbeda, Rasulullah saw menegaskan, bahwa kekacauan itu akan menyentuh wilayah-wilayah keyakinan seorang muslim. Sesuatu yang mungkin di zaman mereka sulit terbayangkan bentuknya seperti apa.

Keburukan dan kebaikan itu sendiri adalah fitnah, ujian dan cobaan. Ibnu Abbas menjelaskan, bahwa Allah swt menguji kalian dengan kesempitan serta kelapangan, kesehatan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan,  yang halal dan yang haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan juga kesesatan.

Ujian dalam bentuk sesuatu yang menyedihkan, seperti kata Sayyid Qutb, sangat mudah dijelaskan. Bahwa ia berfungsi mengenali sejauh mana daya tahan seseorang, kesabarannya atas kesusahan, kepercayaannya kepada Rabbnya, pengharapannya akan rahmat-Nya.

Adapun ujian, cobaan dan fitnah dalam bentuk kesenangan, justru itu yang perlu penjelasan. Karena sesungguhnya ujian dan cobaan dalam bentuk kebaikan jauh lebih mencengkeram. Betapa banyak manusia tegar menghadapi ujian yang menyedihkan, tetapi alangkah sedikit yang tetap kokoh menghadapi ujian pada hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Betapa banyak yang sabar menahan sakit dan kepayahan, tetapi alangkah sedikitnya yang tegar dan sabar menghadapi ujian sehat dan kemampuan fisik. Alangkah terbatasnya yang mampu menerjang beban-beban ujian yang menyenangkan itu, yang menerobos sendi-sendi utamanya. Yang sabar terhadap kemiskinan terlalu banyak. Tak goyah jiwanya, tak goncang batinnya, dan tak terhinakan kepribadiannya.

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi September 2003, Kolom Dirosat