Mengingat masa lajang? Ah… betapa menyenangkannya. Lagi-lagi aku menarik napasku panjang dan segera menepis apa yang kupikirkan cepat-cepat. Masih dengan tangan yang menggandeng, kutegakkan kepalaku. “Yah, apa dengan seperti ini Fat salah?” Aku menengok dan memandang wajah teduh itu.

“Kalau kamu seperti ini sampai berlarut-larut dan menyesal dengan beban-beban kamu, tentu kamu salah. Tapi, kalau kamu bersabar dan menyadari bahwa itu kewajiban yang harus kamu lakukan, itu adalah hal paling baik buatmu. Anak dan suamimu pasti sangat menyayangimu. Dan mereka akan sangat sedih kalau kamu terus seperti ini.” Ayah melirik ke arahku dengan wajah seolah berkata, memang kamu tidak berpikir begitu? Lalu, tersenyum.

[baca sebelumnya: Untuk Putriku Fatimah (Bag 3)]

Berada di sisinya beberapa menit membuat emosiku mereda. Rasa tenang merasuk pelan ke otakku. Dan mengingat dua kalimat terakhir ayahku langsung membuat jantungku tersentak. Tiba-tiba saja rasa rindu yang teramat sangat pada anak dan suamiku menyerang. Aku benar-benar merindukan mereka. Mereka yang tadi pagi sempat kukecup keningnya satu per satu. Wajah pulas mereka mendadak tergambar jelas di otakku.




Aku kembali merebahkan kepalaku di pundak Ayah. Kerongkonganku seketika sakit. Sepertinya aku akan menangis. Ah benar saja, air mataku pun mengalir perlahan dan membasahi pipiku. “Ayah…” Suaraku sumbang. “Maafkan Fat, belum bisa melakukan kewajiban-kewajiban Fat dengan ikhlas.” Aku menyeka air mataku. Sementara Ayah tersenyum dan membelai lembut kepalaku. “Besok pagi pulanglah dan minta maaf pada mereka.”

Keesokan paginya, aku bergegas untuk bersiap pulang ke rumah. Selepas Subuh, Mbok Jah membuatkanku segelas susu dan setangkap roti panggang. Aku tak lupa mengucapkan terima kasih padanya.

Sebelum berangkat, Ayah membawakanku beberapa oleh-oleh. Katanya untuk Adib dan Mas Arya. Ia juga memberikanku sebuah bingkisan kecil. Dan yang ini khusus untukku. Setelah itu, aku langsung pamit, bersalaman dengan mengecup tangannya, dan memeluknya erat.

Kulihat sosok yang sangat kusayangi itu tersenyum padaku.

***

Aku menyeruput pelan teh hangat itu. Mas Arya baru saja mengantarkannya untukku. Aku tahu dia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tadi aku sempat mengintip dari luar pintu ruang kerjanya. Tapi begitulah, dia meyempatkan diri membuatkan teh untukku.

Aku masih ingat benar saat tadi pagi aku menyalami dan mengecup tangannya penuh takzim. Aku meminta maaf atas sikapku. Baik yang baru saja terjadi maupun kesalahan-kesalahanku yang telah lalu. Aku melihat wajahnya ketika itu. Ia tersenyum. Sebelah tangannya membelai kepalaku. Dia benar-benar sangat memahamiku. Aku pun semakin mencintainya.

Tatapanku lurus pada sebuah bingkisan kecil dari ayahku yang terletak di atas meja kerjaku. Sebuah buku agenda berwarna biru muda yang cantik. Sketsa bunga abstrak berwarna putih menghiasi sampulnya. Aku tersenyum dan membukanya. Di halaman pertama tertulis catatan tangan dengan tinta hitam.

Tulisan khas ayahku.

bersambung…

oleh: An Nisaa Gettar

Baca juga:

Untuk Putriku Fatimah (Bag 1)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 2)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 3)