Mulianya Hajar Aswad




Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mengecup Hajar Aswad. Kemudian dia berkata, “Demi Allah! Aku tahu kamu hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, pasti aku tidak akan menciummu. (HR Bukhari)

Umar bin Khattab adalah salah satu dari sahabat Nabi Muhammad Saw yang termasuk pandai. Dia berkata, “Demi Allah! Aku tahu kau hanyalah sebuah batu. Sekiranya aku tidak melihat sendiri Rasulullah Saw menciummu, pasti aku tidak akan menciummu.” Ini menunjukkan Umar mengetahui bahwa sebuah batu hanyalah benda yang sangat tidak patut memiliki posisi suci, sehingga ia harus menciummnya. Pada masa jahiliyah batu bahkan seringkali dijadikan patung yang kemudian dianggap berhala yang mereka Tuhankan.

Namun Hajar Aswad adalah pengecualian. Batu ini merupakan batu yang berasal dari surga. Nabi Muhammad Saw sendiri menciumnya dan memerintahkan agar para sahabat menicumnya, karena itu Umar bin Khattab pun menciumnya. Selain itu, dengan menciumnya ada beberapa hikmah yang dapat diperoleh. Salah satunya, Hajar Aswad diakhirat kelak, akan menjadi saksi untuk orang-orang yang menyentuhnya.




Hajar Aswad adalah batu dari surga yang dibawa oleh Malaikat Jibril untuk diletakkan di Baitullah berdasarkan perintah Allah Swt. Pada asal mulanya, batu mulia tersebut memiliki rupa berwarna putih (jernih) seperti air. Tetapi pada zaman jahiliyah orang-orang musyrik selalu mengusapnya sehingga rupanya menjadi hitam, sehingga rupanya seperti yang sekarang tampak.

Mengenai asal usul Hajar Aswad, ada sebuah hadits yang menjelaskannya. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam.” (HR. Tirmidzi)

Sementara keadaan Hajar Aswad kelak pada saat hari kiamat adalah sebagaimana diterangkan dalam hadits berikut ini. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai Hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Hadits lainnya yang menyampaikan tentang kemuliaan Hajar Aswad serta posisinya yang spesial bagi Rasulullah adalah sebagai berikut. Dari Abdullah, ia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencium (rukun-rukun) di Baitullah, kecuali hajar aswad dan rukun Yamani.” (HR Muslim).

Dari Abdullah bin Umar dia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh Baitullah melainkan pada dua sudut, yaitu hajar aswad dan sudut Yamani.” (HR Muslim)

 

Referensi:

  • Indeks Hadits dan Syarah oleh H.M. Buya Alfis Chaniago
  • muslim.or.id
  • lidwa.com

 

 

Leave a Reply