Betapa banyak yang sabar menahan sakit dan kepayahan, tetapi alangkah sedikitnya yang tegar dan sabar menghadapi ujian sehat dan kemampuan fisik. Alangkah terbatasnya yang mampu menerjang beban-beban ujian yang menyenangkan itu, yang menerobos sendi-sendi utamanya. Yang sabar terhadap kemiskinan terlalu banyak. Tak goyah jiwanya, tak goncang batinnya, dan tak terhinakan kepribadiannya.

[baca sebelumnya: Hiduplah, dan Kaupun Pasti Diuji (bag. 1)]

Tetapi yang lulus menghadapi ujian kesenangan, kekayaan yang melimpah, syahwat dan kesenangan nafsu yang menemukan kepuasannya, yang sabar atas semua ini hanya sedikit dan sedikit. Banyak yang tegar untuk berjuang, menerjang, berusaha dan memacu karya. Tetapi alangkah sedikitnya yang tegar dengan ujian istirahat dan waktu luang. Sekali lagi, kesenangan adalah ujian dan fitnah.




Kematian, bencana dan musibah juga fitnah. Allah swt berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2] : 155)

Ketakutan adalah lawan dari masa aman. Maka, apalah arti hidup bila tidak ada rasa aman? Sedang kelaparan? Tidak ada yang tidak membutuhkan makanan. Hidup tanpa beban saja perlu makanan, bagaimana dengan hidup yang penuh beban? Sedang kekurangan jiwa, menurut para ulama adalah kematian anak atau tetangga. Ini termasuk dalam jenis ujian yang tidak menyenangkan. Ujian dalam bentuk hal-hal  yang buruk dan mengenaskan.

Istri, anak, harta dan keluarga juga ujian. Allah swt menegaskan, “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. Al-Anfal[8] : 28). Atau dalam penjelasan ayat yang lain, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS.At-Taghaabun[64] : 14). Istri, keluarga dan harta, termasuk jenis ujian yang menyenangkan. Betapa banyak manusia yang gugur menghadapi ujian ini.

Tetapi yang lebih penting untuk disadari dari itu semua, adalah relevansi sebuah ujian dengan kedekatan kiamat. Setiap zaman punya cobaan dan ujiannya sendiri. Tetapi yang terpenting, adalah sejauh mana makna ujian itu bagi kian berumurnya zaman dan kian dekatnya saat penghabisan, saat kiamat akan datang.

Maka, sangat mengertilah kita, mengapa Rasulullah saw begitu sering mewanti-wanti umatnya akan datangnya fitnah, ujian dan cobaan di kemudian hari. Sebab, makin dekat suatu zaman dengan hari kiamat, maka banyak fitnah dan godaannya.

Rasulullah saw bersabda, “Bila kiamat telah dekat, akan terjadi guncangan fitnah seperti malam yang sangat kelam, Seseorang pada pagi harinya beriman, pada sore harinya menjadi kafir. Atau pada sore hari ia beriman. Pada pagi harinya kafir. Begitu banyak kaum yang menjual agamanya dengan sekeping dunia. Pada pagi hari mereka masih mengharamkan darah saudaranya sesama muslim, hartanya, juga kehormatannya. Tapi pada sore harinya mereka menghalalkan darah sesama muslim, hartanya, dan juga kehormatannya. Pada sore harinya mereka mengharamkan darah saudaranya sesama muslim, hartanya, juga kehormatannya. Tapi pada pagi harinya mereka menghalalkan darah saudaranya, hartanya dan juga kehormatannya.” (HR.Tirmidzi)

bersambung…

sumber: Majalah Tarbawi September 2003, Kolom Dirosat