Ternyata, Bari pulang subuh tadi bersama kaum yang sudah terang-terangan dilarang masuk kawasan kostku, apalagi ini masuk dan tidur pula. Akhirnya, setelah berusaha menjelaskan dan menenangkan amarah ibu kost, dan nyatanya gagal. Dengan berat hati aku angkat kaki untuk kedua kalinya dari kamar itu. Jangan tanya bagaimana dengan Bari dan dua perempuan tadi, setelah bangun mendadak karena suara marah-marahnya ibu kost, dua perempuan itu pergi tanpa sedikit pun meminta maaf pada ku atau pun ibu kost. Sementara Bari, aku gak tahu, setelah membereskan barang-barang, aku keluar lebih dulu dari kamar dan meninggalkannya yang masih setengah sadar. Tanpa obrolan, tanpa rasa bersalah apalagi permohonan maaf, kami tak mengobrol dan sampai detik ini tak pernah ketemu.

Adalagi, aku harus rela keluar dari kamar kost selanjutnya, karena teman kampus ku yang menginap di kamar ternyata menjadikan kamar ku sebagai tempat jual beli barang-barang haram itu, sampai akhirnya di grebek polisi dan benar saja, barang-barang itu ada di kamar ku. Sementara aku yang tak tahu menahu soal penggrebekan karena saat itu sedang UTS di kampus, harus sabar saat menemukan barang-barang ku sudah ada di depan pintu kamar yang tergembok. Apalagi ini Tuhan?? Kemana lagi aku harus cari kamar murah di saat mendadak begini??

12-13 kali pindah kost selama kuliah S-1, bukan berarti aku diusir sebanyak itu juga. Selebihnya dari masalah pengusiran, aku pindah kost karena memang waktu sewa sudah habis, harga kost-an yang mendadak naik, keadaan kamar yang tak layak, dan karena ketindihan makhluk yang sama sekali tak terlihat tapi bisa dirasakan. Yang awalnya aku tak percaya sama sekali tentang hal-hal begitu, tapi karena beberapa kali mengalami kejadian yang sering disebut “ketindihan” itu, membuat ku sedikit percaya. Hanya sedikit saja tak banyak.




Kesulitan demi kesulitan hidup saat masa kuliah S-1 itu semakin jadi kurasa saat mendapat kabar dari jakarta, ternyata papa ku jatuh sakit. Dengan diagnosis diabetes dan juga stroke. Keadaan itu membuat papa sudah tak bisa lagi bekerja, dan menjalankan perusahaannya. Lagian perusahaan-perusahaan papaku juga sudah bangkrut tak tersisa. Aku berpendapat mungkin itulah salah satu penyebab papa jatuh sakit. Tak mendapat uang kiriman lagi dari Jakarta membuat ku berfikir keras bagaimana dan apa yang bisa kulakukan untuk menyambung hidup dan menyelesaikan kuliah ku yang sudah mendekati semester akhir.

Akhirnya, menjelang masa PPL, aku mencoba mencari peruntungan dengan menjadi tukang foto pengantin untuk acara-acara pernikahan bersama teman ku. Dari sinilah akhirnya kudapat lembar demi lembar rupiah untuk menutupi biaya kuliah dan selebihnya untuk kehidupan sehari-hariku.

Oh ya, saat itu juga aku sudah mulai sedikit berubah, merubah kehidupanku lebih baik lagi. Aku mulai meninggalkan kebiasaan merokok ku karena sudah di diagnosis Bronkitis oleh dokter, saat entah sudah berapa kali aku dilarikan ke rumah sakit karena sesak nafas. Sulit memang, tapi akhirnya aku bisa juga lepas dari kebiasaan merokok karena bantuan dia. Dia yang kumaksud disini adalah Rosa, teman wanita yang satu-satunya dekat dengan ku. Dia wanita muslim, dan aku jatuh cinta padanya. Cinta pertamaku.

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee