Untuk Putriku Fatimah (Bag 6)




Pandanganku mendadak kabur oleh cairan bening yang merembes keluar. Sebulir air mata pertama mengalir perlahan, yang kemudian disusul oleh bulir-bulir yang lain. Aku tidak mampu membendung perasaanku. Sebuah perasaan yang sangat sulit untuk kugambarkan. Antara haru, tapi juga sesal atas kesalahanku. Aku pernah membaca pesan dari sosok mulia tersebut. Bahkan mungkin tidak hanya sekali. Namun baru kali ini aku membacanya dengan perasaan yang campur aduk hingga tak dapat kugambarkan. Ya Rabb, maafkanlah hamba. Maafkan pula aku sebagai umatmu, ya Rasulullah.

Juga Ayah. Ah… ingin sekali aku memeluknya.

[baca sebelumnya: Untuk Putriku Fatimah (Bag 5)]

Ya Allah, kenapa aku baru merasakannya? Sungguh betapa beruntungnya aku! Aku diciptakan sebagai wanita yang dianugerahi suami dan seorang putra. Betapa beruntungnya aku memiliki peran sebagai istri sekaligus seorang ibu. Astaghfirullah… kenapa aku pernah menyesalinya? Apa aku ini bodoh? Lagipula kenapa aku seringkali berkeluh kesah atas semua itu? Padahal, betapa aku sangat beruntung dapat memperoleh banyak kenikmatan melalui peran-peranku itu. Dan betapa beruntungnya aku memiliki seorang teladan sempurna yang begitu bijak memberikan pesan-pesan pada keluarga dan umatnya.




Aku jadi teringat ketika dulu Ayah sering bercerita tentang Rasulullah.

“Nak, Rasulullah adalah sosok yang sempurna dan mulia. Beliau adalah seseorang yang menjadi kekasih Allah. Beliau adalah sosok yang sangat hebat. Tangguh dan tegas, namun juga bijak dan lembut. Tak seorang pun melebihi kehebatannya,” cerita Ayah ketika itu. Ayah pun banyak bercerita kisah-kisah tentang mukjizat yang diperoleh oleh Rasulullah, yang semua itu tak mungkin diperoleh oleh manusia biasa–dan ketika itu aku berpikir termasuk Ayah. Saat kecil, bagiku orang yang terhebat adalah Ayah sehingga seringkali kubayangkan bahwa sosok Rasulullah mungkin seperti ayahku. Namun, Ayah selalu menyampaikan dalam cerita-ceritanya bahwa Rasulullah sangat jauh lebih hebat. Tak seorang pun yang dapat melebihi kehebatan kekasih Allah tersebut. Aku pun sangat kagum akan sosok tersebut. Seringkali kusampaikan pada Ayah bahwa aku sangat ingin melihatnya. Aku sangat ingin bertemu dengan Rasulullah. Dan hal itu tertanam dalam diriku hingga kini.

Ya Rasulullah, sungguh rindu ingin bertemu yang teramat sangat menyeruak dalam ruang-ruang hatiku saat ini. Ah… betapa bahagianya kalau aku bisa bertatap denganmu, mendengar pesan-pesan darimu, dan memandang perangaimu yang begitu indah dan tuturmu yang teramat lembut. Aku selalu berharap kelak aku dapat benar-benar bertemu denganmu. Aku tidak ingin terdengar gombal, tapi aku benar-benar ingin mengatakan bahwa aku sungguh mencintaimu. Sangat sangat mencintaimu.

Aku menghapus pipiku yang basah karena air mata. Lalu, kembali ku tatap pesan dalam surat tersebut. Terimakasih ya Allah. Untuk putriku, Fatimah… kalimat awal pesan itu. Aku pun akan selalu mengingatnya.

Tamat

oleh: An Nisaa Gettar

Baca juga:

Untuk Putriku Fatimah (Bag 1)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 2)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 3)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 4)

Untuk Putriku Fatimah (Bag 5)

Leave a Reply