Dari Shal bin Hunaif r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar ia mati syahid maka akan disampaikan Allah-lah ia ke tempat kedudukan orang-orang yang mati syahid itu, walaupun ia mati di tempat tidurnya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Nasa’i)

Hadits ini sengaja saya salinkan karena akhir-akhir ini timbul semacam ketakutan kepada masyarakat bahwa umat Islam mengobarkan semangat jihad atau mati syahid. Ini ditandai dengan adanya “Komando Jihad” yang perkaranya sampai ke muka pengadilan negeri, dan seakan-akan berjihad itu diartikan bahwa kaum Muslimin hendak melawan pemerintah yang sah di Republik Indonesia ini.

Apalagi pada masa yang lalu, dengan munculnya DI (Darul Islam) dan TII (Tentara Islam Indonesia) menjadikan santernya propaganda ke arah itu, orang lupa bahwa RMS (Republik Maluku Selatan) yang berdasarkan Kristen telah pula mencoba memberontak dan gagal. Lalu, pemimpin-pemimpin gerakan itu sama saja nasibnya dengan pemimpin-pemimpin dari pihak Islam yang berontak, yaitu hukuman mati.




Sejak saat itu orang takut menyebut-nyebut kata jihad. Padahal kalau jihad tidak ada lagi, agama menjadi terasa lesu dan pemeluk agama itu menjadi pasrah kepada nasib, lalu memakai filsafat kehancuran, yaitu “sebaik-baik untung ialah teraniaya.”

Perkataan jihad itu diambil dari pokok kata juhd, artinya bersungguh-sungguh, bekerja keras tidak kenal menyerah, mengeluarkan segala kekuatan dan tenaga untuk mencapai maksud yang mulia. Adapun ‘perang’, hanya sebagian kecil saja dari ajaran jihad bila jalan lain telah tertutup. Sebab, memang segala peperangan mesti dikerjakan dengan sungguh-sungguh, strategi yang matang, taktik yang sempurna, teknik yang modern dengan mengingat medan dan cuaca. Oleh karena itu, ahli-ahli Islam telah membagi tingkat jihad menjadi delapan.

1. Memerangi dan menentang segala usaha orang kafir karena hendak membela agama Allah dengan membendung usaha musuh yang hendak meruntuhkan kekuatan Islam. Bersedia berkorban demi meninggikan kalimat Allah dan kemuliaan Islam dengan tidak mengenal lelah dan payah.

2. Memerangi usaha orang-orang yang hendak memperingan agama dan menyediakan segala alasan yang kuat untuk menghadapi mereka sehingga usaha mereka itu gagal.

3. Mengadakan dakwah sehingga orang banyak kembali kepada kebenaran, dan membawa mereka supaya kembali kepada tuntunan Allah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

4. Berusaha memerangi hawa nafsu diri kita sendiri dengan mengintrospeksi dan melengkapi diri supaya mempunyai budi pekerti yang luhur (fadha’il) dan menjauhi perangai-perangai yang tercela (madzmumah) dengan latihan-latihan yang tidak kenal lelah. Selalu pula melengkapi diri dengan mempelajari agama dengan lebih tekun dan lebih mendalam.

5. Berjuang menahan pengaruh setan supaya diri jangan terperosok kepada yang syubhat (yang diragukan kebenarannya) dan syahwat (menurutkan kepentingan diri sendiri atau hawa nafsu).

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan maka sesungguhnya ia (setan) itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun di antara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi, Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur[24] : 21)

6. Jagalah dirimu agar tidak sampai berteman dengan orang-orang yang jalan hidupnya telah cacat, jangan berkawan dengan orang-orang jahat, jangan berkasihan dengan orang-orang yang maksiat, putuskan hubungan dengan orang-orang yang fasik.

7. Sediakan selalu waktu untuk memberikan pengajaran, petunjuk, tuntunan, dan nasihat supaya orang pun paham akan Al Qur’an yang mulia dan hadits yang syarif, ilmu fiqih, diserta sejarah perjuangan Rasul, dan yang penting lagi sejarah pejuang-pejuang Islam.

8. Bersedia menerima kritik yang membangun dan sabar menerima kritik yang semata-mata hanya kritik saja. Bahkan dianjurkan datang meminta nasihat kepada ahlinya, ziarah kepada orang-orang yang dianggap taqwa, bergaul rapat dengan ulama yang beramal mengambil faedah dengan cahaya iman mereka dan meneladani perbuatan mereka yang baik.

bersambung…

oleh: Buya Hamka (rubrik Dari Hati Ke Hati majalah Panji Masyarakat 1967-1981)