“Ar Rahmaan – Ar Rahiim”  sifat ini meliputi seluruh makna rahmah (kasih sayang) sekaligus seluruh kondisi dan aspeknya. Ayat ini diulang di tengah surat dalam satu ayat tersendiri dalam rangka menegaskan karakateristik yang menonjol dalam rububiyah yang menyeluruh tersebut, serta mengukuhkan dasar-dasar hubungan antara Rabb (Tuhan Pemelihara) dan marbub-Nya (makhluk yang dipelihara-Nya), antara Pencipta dan makhluk ciptaan-Nya. Ia adalah hubungan kasih sayang (rahmah) dan pemeliharaan (ri’ayah) yang menumbuhkan pujian dan sanjungan. Ia adalah hubungan yang didasarkan pada ketenangan dan menumbuhkan kasih sayang. Dengan kata lain, pujian adalah respon yang sangat fitri akan rahmat yang begitu melimpah.

Rabb atau Ilah dalam Islam sesungguhnya tidak memusuhi hamba-Nya, seperti halnya permusuhan di antara musuh yang berseteru, sebagaimana Olimpus yang berbagai kecenderungan dan pemberontakannya dikisahkan dalam dongeng-dongeng Yunani. Dalam pandangan Islam, Rabb juga tidak membuat berbagai makar balas dendam seperti yang diyakini oleh berbagai dongeng palsu yang terdapat dalam ‘Perjanjian Lama’, sebagaimana dongeng Menara Babilonia yang termaktub dalam pasal sebelas Kitab Kejadian.

“Maalikiyaumiddiin” ayat ini mencerminkan prinsip luar biasa yang pengaruhnya begitu mendalam pada seluruh kehidupan manusia. Yaitu prinsip keyakinan terhadap akhirat. Kerajaan adalah puncak tingkatan kekuasaan dan dominasi. Sementara ‘yaumuddin’ merupakan hari pembalasan di akhirat. Sebagian besar manusia percaya pada uluhiyah Allah dan perkara penciptaan-Nya akan alam semesta ini pada mulanya. Namun, meskipun demikian mereka tidak meyakini tentang adanya hari pembalasan. Al Qur’an menyampaikan tentang sebagian mereka.




“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab, ‘Allah.'” (QS. Az Zumar [39]: 38)

“Bahkan mereka amat kaget karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, ‘Ini adalah suatu yang amat aneh.’ Apakah setelah kami mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”(QS. Qaaf [50]: 2-3)

Keyakinan terhadap hari pembalasan adalah salah satu prinsip aqidah dalam Islam, yang berperan penting dalam mengaitkan pandangan dan hati manusia dengan alam akhirat, agar mereka tidak dikuasai oleh berbagai kepentingan dunia, namun mereka justru yang menguasai kepentingan-kepentingan tersebut. Agar mereka tidak dihantui oleh kecemasan akan terwujudnya pembalasan usaha mereka dalam usia yang pendek dan terbatas ini, dalam ruang lingkup dunia yang terbatas. Pada saat itulah, mereka dapat beramal demi mencari ridha Allah dan menunggu balasan sesuai apa yang telah ditentukan Allah baik dunia maupun di akhirat–dengan penuh keyakinan kepada Allah, optimisme terhadap kebaikan, kemantapan di atas jalan kebenaran, serta dengan leluasa, toleran, dan yakin. Itulah mengapa prinsip ini dinilai sebagai persimpangan jalan antara penghambaan terhadap berbagai kecendeurngan serta keinginan hawa nafsu dan kemerdekaan yang sesuai dengan harkat manusia, antara kepatuhan terhadap berbagai konsep, nilai-nilai, dan bermacam parameter keduniaan dengan keterikatan kepada nilai-nilai Ilahiyah dan superioritas terhadap logika Jahiliyah. Persimpangan jalan antara kemanusiaan dalam hakikatnya yang tertinggi sesuai denga kehendak Allah akan hamba-Nya dan bermacam gambaran buruk dan menyimpang jauh dari kesempurnaan.

bersambung…

(Sumber: Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an karya Ustadz Sayyid Quthb)