Rosa membantuku meninggalkan semua hal yang sudah lama menjadi kebiasaan ku. Walaupun susah, akhirnya aku bisa lepas dari rokok, dan minuman keras. Bersama Rosa aku menemukan satu kehidupan baru yang membuatku lebih hidup lagi. Rosa tak pernah mempermasalahkan tentang keyakinan ku yang seorang Kristiani. Dia menerima ku dan berjanji menjalani kehidupan bersama entah sampai kapan, yang pasti seperti halnya orang yang saling mencintai, kami berjanji hanya maut lah yang dapat memisahkan antara aku dan dia.

Rosa, sosoknya tak lah begitu cantik. Dia punya lesung pipi tipis di pipi sebelah kanannya, dengan postur badan yang pas untuk wanita umur 20-an saat itu, tinggi tubuhnya semakin membuatnya terlihat indah saat berjalan. Dia berdarah minang.

Berbeda jurusan dengan ku, Rosa adalah anak kedokteran gigi. Pertemuan ku dengan Rosa berawal saat fakultas ku dan fakultas gigi melakukan masa orientasi mahasiswa baru di waktu yang sama. Gedung fakultas kami yang berdekatan membuat ku mudah sekali melirik atau ibarat mencuci mata ke gedung sebelah (gedung fak.gigi). Dan entah mengapa aku tertarik dengan sosok yang saat itu menggunakan kaos hitam lengan pendek, jeans berwarna senada dan sepatu skate berwarna merah maroon. Tubuhnya yang cukup langsing, semakin elegan kulihat dengan almamater fakultasnya yang berwarna hijau tua. Ah, kamu terlihat manis Ros.




Dengan percaya diri, dihari terakhir acara Ospek, aku nekatkan diri berkenalan dengan Rosa. ‘Rosalina Putri Jambak’  itulah namanya. Nama wanitaku, wanita kecintaan ku setelah Mbah. Dari awal masa kuliah, aku memang tak terlalu sering memperhatikan wanita-wanita di kampusku. Ditambah terlalu banyak masalah yang kuhadapi selama kuliah, membuatku seakan lupa tentang mencari pasangan, layaknya mahasiswa-mahasiswa lakukan.

Sampai pada akhirnya, aku jatuh cinta pada sosok wanita itu. Rosa, seorang calon dokter gigi yang tidak terlalu cantik namun begitu indah di pandangan mataku. Hubunganku dengan Rosa semakin dekat saat kami telah sama-sama berada di penghujung masa kuliah. Karena Rosa jugalah, aku berusaha mati-matian agar tak harus menambah waktu kuliah karena skripsiku berantakan.

Bersama Rosa, aku menjalani kehidupan baru yang bisa dibilang bahagia. Aku melakukan banyak hal, baik itu urusan kampus, kerjaan part time ku sebagai tukang foto, dan bahkan urusan pribadi ku yang kulakukan ditemani Rosa. Tak ada permasalahan keyakinan diantara aku dan Rosa. Aku mengantarkan dan menunggunya di masjid saat kami sedang jalan-jalan berdua. Dia selalu memberi ku hadiah saat malam natal, walaupun itu hanyalah hadiah kecil. Rosa selalu menemaniku saat melewati malam natal, dengan menghabiskan waktu bersama melihat bintang di taman kampus. Sudah berapa kali malam natal dan hari natal tidak ku isi dengan bergereja. Dan sudah 2 tahunan pula aku tak pulang ke jakarta merayakan natal bersama keluarga. Bersama Rosa, aku merasakan dunia kekeluargaan yang baru yang lebih nyaman kurasa, walaupun hanya aku dan Rosa.